Putuskanlah untuk Bahagia

In LOVE, no one can harm anyone else, we are each of us responsible for our own feelings and cannot blame someone else for what we feel. It hurts when I lost each of the men I fell in love with. Now, though, I’m convinced that no one loses anyone, because no one owns anyone. That is the true experience of freedom: having the most important thing in the world without owning it.

-Paulo Coelho, Eleven Minutes-

Seseorang tidak bisa disalahkan karena telah menyebabkan orang lain berbuat kesalahan. Semisal, papan reklame bertuliskan ‘Discount 90%’ di depan sebuah Mall membuat seseorang meleng dari perhatiannya pada jalan sampai akhirnya kecelakaan pun terjadi. Papan reklame mungkin adalah penyebab dari kecelakaan ini. Namun, bukan berarti papan reklame harus dipersalahkan karena yang memutuskan untuk meleng dari jalan adalah si pengendara sendiri.

Bukan ujian nasional yang menyebabkan aneka macam kecurangan terjadi selama pelaksanaannya yang mengakibatkan ‘sang ujian nasional’ harus menerima eksekusi capital punishment – dihapuskan selamanya dari pendidikan kita. Bukan. Keputusan orang-orang yang terlibat untuk curanglah yang seharusnya ditinjau kembali. Karena kehidupan itu tidaklah bebas ujian. Kehidupan tidaklah bebas dari pertanyaan. Karena ujian dan pertanyaan adalah cara seseorang untuk membuktikan apakah dirinya pantas dan layak untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.

Bukan debu yang menyebabkan seseorang bersin. Keputusannya untuk berada di tempat penuh debu yang menjadi sumber utamanya. Keputusannya untuk jarang membersihkan debu di tempat itulah muaranya. Bukan debu. Bukan orang lain. Kita sendiri. Kita bertanggung jawab atas semua perbuatan kita. Entah yang baik. Entah yang buruk.

Kita adalah penguasa hati kita sendiri. Kesedihan tidak akan muncul jika hati kita tidak mengijinkan kita untuk bersedih. Kebahagiaan tidak serta merta muncul ketika kita pesimis bahwa kebahagiaan hanyalah khayalan semu yang pasti tergeser oleh kesedihan (kembali). Bukan orang lain, benda lain, atau hal lain yang membuat kita bersedih, bergembira, atau bersyukur. Keputusan kitalah yang membuat semua perasaan itu muncul.

Memutuskan untuk bergembira. Memutuskan untuk melihat hal positif dari segala hal. Dunia nyata jauh berbeda dengan sinetron, yang mana pemainnya ditakdirkan untuk 100% baik dan 100% jahat. Selalu ada komedi di balik tragedi. Selalu ada bahagia saat hati memutuskan untuk melihat dari kacamata kebahagiaan.

p.s.

Selamat, untuk yang telah lepas dari tuduhan.

Terima kasih, emak @concettaerasmusedogawa

Advertisements

Mari berdiskusi... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s