Transportasi Saat Berwisata di Bangkok

Angkutan di Bangkok? (Tergolong) Murah! MRT? Cepat dan lumayan murah. Taksi? Murah dibanding dengan taksi Indonesia. Sayang sekali saya belum sempat mencoba Skytrain, jadi tidak bisa menjelaskan di sini.

1. Mass Rapid Train (MRT)

Image

Transportasi yang paling gampang (dalam hal bahasa) di Bangkok mungkin MRT. Bukan karena tulisannya dalam huruf alphabet, tapi karena kita (orang asing) bisa langsung membeli tiket ke loket informasi. Cukup menyebutkan tujuan, memberikan sejumlah uang yang diminta dan tadaa… mendapatkan plastik bulat kecil hitam ajaib kunci menuju gerbong MRT. Kecuali kamu bisa membaca huruf Thailand, sebaiknya jangan terlalu peraya diri untuk melangkah ke loket pembelian tiket otomatis karena semua petunjuk dan nama-nama peta ditulis dalam huruf keriting.

Ei6201

Jarak tiap MRT Station rata-rata sekitar 3 menit saja. Biaya tergantung seberapa banyak stasiun yang kita lewati. Harga adalah 6 baht per lewat stasiun. Sebagai contoh, saya dari hotel di Yen Arkard menuju QSNCC di Sukhumvit, saya naik dari Lumphini Station, melewati Khlong Toey Station, dan turun di Queen Sirikit National Convention Centre Station. 3 stasiun kali 6 baht: 18 baht alias Rp 5400 (kurs kala itu 1 Baht: 300 rupiah).

Image

Dengan naik MRT kita bisa menghindari kemacetan kota Bangkok di rush hour. Bangkok selalu macet pada jam 7-8 pagi dan 5-6 sore. MRT juga lumayan penuh di jam-jam tersebut tapi insyaAllah jauh lebih nyaman dan lebih cepat daripada kita naik taksi yang dengan sia-sia mencoba menembus macet karena argo terus berjalan meskipun mobil sama sekali tidak bergerak. Terlebih lagi, semua okasi-lokasi strategis/obyek wisata terkenal di Bangkok terhubung degan jalur MRT sehingga MRT merupakan transportasi yang paling dianjurkan kala menjelajahi kota Bangkok :).

Image
Berikut ini adalah beberapa tempat yang sempat saya jelajahi dengan menggunakan MRT:

Chatuchak Market

Dari stasiun MRT manapun, naiklah MRT menuju Kamphaeng Phet Station. Ingat, bukan Chatuchak Park Sation, tetapi Kamphaeng Phet Station. Chatuchak Market berada tepat di depan pintu keluar Kamphaeng Phet Station.

Di Chatuchak Market, kita bisa mendapatkan berbagai macam barang dan suvenir dengan harga murah. Turis Indonesia sangat mudah ditemui di sini. Rata-rata ibu-ibu yang (terlihat) shopaholic dan bukan mahasiswa berdompet tipis seperti saya. :D. Bahkan beberapa turis datang ke Chatuchak dengan membawa koper kosong siap memborong barang-barang berkualitas dengan harga murah. Namun, tetap saja kemampuan tawar menawar sangatlah penting. Barang akan menjadi sangat murah jika kita bisa menawar, memiliki itikad baik dengan mengucapkan bahasa-bahasa Thai sederhana seperti, “Tao lai?” yang artinya ‘berapa?’ diikuti skill menawar ala ibu-ibu kita ketika berbelanja di pasar. Jika beruntung, pedagang yang senang kita menggunakan bahasa mereka akan secara suka rela memberikan potongan yang wow. 😀

p.s. Chatuchak Market hanya buka Sabtu dan Minggu saja.

Chulalongkorn University, MBK, Sam Yan Market, Wat Hua Lamphong, dll

Untuk mencapai Chulalongkorn dan MBK, naik MRT dari manapun menuju Sam Yan Station. MBK sangat direkomendasikan untuk mendapatkan souvenir dengan harga miring. Banyak souvenir-souvenir unik yang bisa didapat di sini. Selain itu, barang-barang KW kualitas super dijual dengan harga kurang dari sepertiga harga Indonesia di sini. Namun, keahlian menawar tetap masih sangat diperlukan :).

Tidak banyak yang bisa saya ceritakan tentang Chulalongkorn University. Yang saya tahu dari salah seorang kenalan yang kebetulan kuliah di Chula hanyalah bahwa:

a)     Nama Chulalongkorn diambil dari nama salah seorang pangeran kerajaan Thailand (pastinya bukan pangeran yang sekarang :D)

b)     Semua mahasiswanya wajib menggunakan seragam putih biru seperti anak SMP di Indonesia (hanya saja bisa dibuat modis). Kebanyakan memakai rok dengan batas di bawah lutut meskipun beberapa kali saya melihat ada yang menaikkan roknya sampai di atas lutut.

c)      Fakta bahwa bintang film Suckseed, si Koong, Pachara Chirathivat, kuliah Bisnis Manajemen di sini. lol

Grand Palace, Wat Pho (Reclining Buddha), Wat Arun, Chao Phraya, Khao San Road dll

Grand Palace, Wat Pho, Wat Arun, Chao Phraya, dan Khao San Road berada di satu kompleks. Semua obyek wisata tersebut dapat dicapai dengan naik MRT menuju ke Hua Lamphong Station yang mana merupakan stasiun terakhir sebelum extension. Dari stasiun Hua Lamphong, cara termudah adalah dengan menanyakan angkutan mana yang menuju ke Grand Palace untuk menjangkau semua obyek wisata tersebut. Kalau beruntung, setelah keluar dari stasiun MRT Hua Lamphong, ada bus gratis yang sayang sekali saya lupa warna dan nomornya :D. Sebaiknya tanya ke petugas di bagian informasi di stasiun MRT atau tanya ke orang-orang di sana. Ingat, salam bahasa Thai dan langsung sebut nama tempat dan menaikkan nada kalimat (i.e. “Grand Palace?”). jangan lupa untuk mengucapkan terima kasih (Kop khun kaa/krab). :D.

2. Bus

Image

Bus di Bangkok warna-warni! Bukan asal warna-warni, setiap warna memiliki tarif tersendiri. Semakin mengkilap warnanya, di dalamnya ada fasilitas AC dsb, semakin mahal. Namun, masih dalam kategori bisa dijangkau: mulai dari yang paling murah 2000an sampai 6000an untuk bus AC.

Berikut daftar tarif bus berdasarkan warna 😀

– Orange (AC), tarif antara 11 sampai 24 baht, tergantung jarak

– Kuning (AC dan baru >.<), tarif antara 10-12 baht

– bus yang terlihat lama (>.<), tarif 8 baht saja
– Merah (non-AC), tarif gratis sampai 7 baht
Bus menjangkau semua wilayah dan beroperasi 24 jam. Tarif setelah jam 10 malam, akan dikenai biaya tambaan 1.5 baht saja. Bus di sini juga memiliki nomor-nomor. Inilah yang seringkali membingungkan turis karena saking banyaknya jenis dan nomor tersebut. Berikut daftar nomor bus di Bangkok dan tempat yang dituju.

3. Taksi

100_1118

Taksi di Bangkok juga warna-warni. Namun, warna-warnanya tidak berpengaruh sama sekali terhadap tarifnya :p sama seperti taksi-taksi kita yang juga warna-warni tergantung merk. Taksi adalah pilihan cerdas saat kepepet. Sebaiknya jangan naik taksi di rush hour yaitu antara jam 7-8 pagi dan jam 6-7 malam. Karena konferensi selesai setiap pukul 10.00 malam, saya lebih memilih naik taksi dari QSNCC karena bisa langsung turun di depan hotel. Biaya juga lebih murah karena taksi berjalan lebih cepat karena jalan yang sudah sepi. Bahkan, setelah beberapa kali naik taksi dan kami hapal jalan pintas, naik taksi hanya menghabiskan 40 Baht saja untuk satu taksi dibagi ber empat. 12000 rupiah dibagi empat dari semula 24000 berempat! 😀

Namun, jangan sekali-kali naik taksi tanpa argo. Lihat apakah taksi tersebut memakai argo atau tidak. Karena naik tanpa argo sangat riskan, apalagi di tempat asing yang kita sama sekali tidak tahu seluk beluk jalannya.

4. Tuk-tuk

Ei6329

Ini yang paling asyik. Tuk-tuk mirip bemo di Indonesia.  Muat sampai 3 orang penumpang. Tarif bisa nego.

5. Ojek

Di Bangkok juga ada ojek. Pangkalannya juga ada. Beberapa desain motornya mirip dengan motor-motor keluaran Jepang yang dijual di Indonesia dengan nama motor yang berbeda. Hanya saja saya tidak berani naik ojek karena takut tidak bisa menjelaskan alamat yang dituju. Kecuali anda memiliki teman orang Thailand atau anda sendiri mahir berbahasa Thailand, silakan bernegosiasi ria. 🙂
~Happy Travelling~

Advertisements

Mari berdiskusi... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s