Surat Untuk Kalian yang Belum Lahir

Dear my (future) kids,

Sebenarnya Ibu merasa lucu saat menulis surat ini. Kenapa? Karena Ibu tidak tahu apakah kalian nantinya akan dititipkan pada Ibu atau tidak. Bahkan saat ini, Ibu belum bertemu dengan ayahmu. Tapi Ibu tahu, jika nanti kalian hadir, Ibu akan berusaha menjadi Ibu yang terbaik untuk kalian.

Sebelumnya Ibu sempat menertawakan teman Ibu yang juga menuliskan surat untuk anak-anaknya yang belum lahir. Tapi akhirnya Ibu ikut-ikutan juga. Pada akhirnya Ibu juga merasakan rindu yang sama. Ibu merasakan harapan yang sama dengannya. Ibu ingin, suatu hari, akan dipertemukan dengan kalian.

Nak, Ibu ingin, kalian lahir dan tumbuh dengan satu tujuan: kembali kepada Allah dalam keadaan baik. Ah, bahkan kalian belum juga terlahirkan tapi Ibu sudah berpikir tentang ‘kembali’ kepada-Nya. Tapi,  Nak, kau pasti tidak ingat, bahwa sebelum lahir kalian sudah berjanji untuk beriman kepada Allah. Ibu juga berjanji seperti itu dulu. Oleh karena itu, Nak, Ibu ingin nantinya kalian tumbuh dengan tuntunan Islami. Ibu berani jamin, selama ada keimanan di dalam hati, insyaAllah, tidak akan ada kesedihan yang mengendap lama, melainkan kebahagiaan saja yang tetap tinggal.

Ibu ingin, sejak awal, kalian memiliki pondasi yang kuat. Sehingga, setinggi apapun bangunan kehidupan yang akan kalian bangun nanti, bangunan itu akan tetap berdiri kokoh meski dihantam badai dan arus kehidupan. Ibu ingin kalian benar-benar memahami tujuan dari kehidupan kalian. Bukan untuk jadi orang kaya, orang sukses, disanjung banyak orang. Lebih jauh, tujuan hidup ini adalah kembali kepada-Nya dalam keadaan yang baik dengan bekal yang cukup untuk ditimbang pada neraca amal akhirat. Terlalu rumitkah untukmu, Nak? Ibu juga belum sepenuhnya memahami, namun, janji Allah itu nyata dan tidak ada keraguan sama sekali di dalamnya. Kalau kita mampu mempercayai manusia yang hatinya mudah dibelokkan, kenapa kita tidak mampu mempercayai Allah yang Maha Benar?

Nak, Ibu merasa telah melewati begitu banyak hal. Namun, satu yang Ibu ingin kalian ingat, selalu belajar dari kesalahan. Dan seberuntungnya orang, adalah dia yang tidak perlu mengalami kesalahan sehingga harus belajar sendiri. Kalian bisa belajar dari orang lain, kalian juga bisa belajar dari Ibu. Ibu bukannya merasa tidak bersyukur, namun, jalan hidup Ibu yang lalu begitu tidak tertata. Dan Ibu tidak ingin hal ini terjadi juga kepada kalian. Ibu telah belajar, masih belajar, dan akan terus belajar. Meskipun begitu, Ibu sangat bersyukur ditakdirkan menjalani kehidupan Ibu ini. Karena nyatanya banyak sekali hikmah yang dapat dipetik dan jujur Ibu ingin sekali segera membagikannya kepada kalian. Kita akan belajar bersama-sama, Nak.

Nak, mungkin, suatu ketika, kalian akan merasa bahwa Ibu kolot. Ibu tidak memahami kehidupan anak muda. Mungkin kalian berpikir, Ibu langsung terlahir dewasa. Ibu juga pernah berpikir demikian, Nak. Namun, Ibu sadar, bahwa kakek nenekmu tidak terlahir langsung jadi orang dewasa, namun justru karena mereka juga pernah muda. Jaman mungkin berubah, namun, filosofi kehidupan sejatinya adalah sama. Maka dari itu, Ibu ingin kalian mengerti, bahwa dunia ini adalah hubungan sebab akibat. Banyak sekali orang yang melupakan kalimat bijak, “Orang akan memetik buah yang sudah ditanamnya.” Oleh karena itu, Nak, Ibu harap kalian banyak-banyak menanam bibit kebaikan, sehingga nantinya kebaikan pulalah yang akan kalian petik. Peribahasa ini tidak akan berubah meski jaman semakin berubah dan modern.

Sangat mungkin pula, nantinya saat usia kalian mencapai belasan, kalian akan merasakan ketertarikan dengan lawan jenis. Jangan malu untuk bercerita pada Ibu, Nak. Ibu tidak melarangnya. Itu fitrah manusia. Hanya saja, Ibu ingin kalian mampu untuk mengendalikannya. Ibu ingin kalian menyalurkan perasaan itu dengan tepat. Bukan dengan berpacaran, bukan dengan smsan, chatting untuk hal yang tidak penting, dsb. Justru dengan hadirnya perasaan itu, Ibu ingin kalian semakin khusyuk beribadah, semakin memperbanyak amalan baik, semakin semangat belajar, semakin berprestasi dan kesemuanya itu diniatkan untuk mencapai ridho Allah, bukan untuk menarik perhatiannya. Membingungkan? Tidak, Nak. Sederhana saja. Jodoh itu di tangan Allah. Kalau dia memang jodohmu, kalian pasti akan dipertemukan nantinya saat sudah siap. Ibu tidak ingin kalian mendahului takdir dengan berpacaran, karena belum tentu dia akan menjadi jodohmu, tapi sudah tentu kalian melanggar perintah-Nya untuk menjauhi zina. Selain itu, dengan menahan diri, perasaan itu lambat laun pasti akan terjawab. Apakah perasaan itu akan melemah dan hilang, atau semakin kuat. Bagaimanapun tumbuhnya perasaan itu, kalian harus menjaga kehormatan perasaan kalian. Jangan takut bahwa kalian tidak akan bahagia. Jangan terburu-buru. Tumbuhlah menjadi baik dan lebih baik lagi. Jodoh itu cerminan diri, Nak. Orang baik untuk orang baik, begitu pula sebaliknya. Maka jadilah cermin yang baik sehingga bisa memantulkan jodoh yang baik pula.

Nak, tentu Ibu tidak ingin kalian tumbuh dalam kekurangan. Namun Ibu yang sekarang tidak mampu menjaminkan rejeki yang akan Ibu dapat nantinya untuk membesarkan kalian. Bukan Ibu malas atau pesimis, Ibu optimis dan berharap kalian tidak tumbuh dalam keterbatasan materi. Namun, rejeki adalah kekuasaan Allah. Meskipun begitu, Nak, bagaimanapun keadaan kita nanti, berkecukupan atau tidak, jangan takut untuk bermimpi. Mimpilah setinggi-tingginya. Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi selama kalian percaya pada Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. InsyaAllah, Ibu akan selalu mendukung mimpi-mimpi kalian.

Selain itu, Nak, jangan sampai dunia melenakanmu. Bukannya Ibu melarangmu mengejar dunia, Ibu hanya ingin menawarkan solusi yang lebih baik: kejarlah akhirat. Karena dengan mengejar akhirat, dunia akan mengikuti. Namun, jika kau kejar dunia saja, maka itu saja yang akan kau dapat. Mungkin ada yang menyangkal dengan mengatakan padamu bahwa si A itu orang beriman, selalu melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, tapi hidupnya serba kekurangan. Ketahuilah nak, kebahagiaan itu tak semata bisa diukur dengan materi. Jangan kerdilkan pencapaian dunia dengan satu ukuran materi saja. Bisa jadi, bapak tukang becak yang setiap hari kau lihat berpanas-panas mengayuh becaknya sampai hitam kelam kulitnya terbakar matahari itu lebih bahagia daripada presiden direktur perusahaan ternama yang sering kau lihat di tivi. Jika kau bisa dapatkan keduanya, kenapa kau hanya pilih satu (dan itu pun yang fana?).

Bukan berarti pula, ketika Ibu berkata seperti ini, Ibu melarangmu untuk sukses dan kaya. Tidak, Nak. Allah justru lebih menyukai orang yang kaya, karena orang kaya lebih mampu membantu sesamanya daripada orang yang miskin harta. Ibu hanya ingin, bagaimanapun nasib membawa kalian kelak, kalian selalu pandai bersyukur dan menumbuhkan keimanan dan cinta kepada Allah. Hidup berkecukupan ataupun dalam kekurangan, selalu belajarlah dari tukang parkir yang biasa kau lihat di depan pasar itu. Beliau tidak pernah sombong meski banyak mobil dan motor yang dititipkan kepadanya, karena dia sadar dengan sepenuh hati bahwa semua itu adalah titipan. Sama dengan kehidupan kita. Hidup berkecukupan ataupun kekurangan, tetaplah bersedekah di jalan Allah. Bersedekah harta, ilmu, tenaga, apapun yang kalian mampu untuk menggapai ridho-Nya.

Nak, mungkin kalian akan bertanya kenapa kita harus sedemikian patuh kepada Allah? Kenapa kita harus mencintai-Nya? Kenapa kita harus takut pada-Nya? Jawabannya karena Allah sangat mencintai kita, Nak. Kalian mencintai Ibu karena Ibu yang memenuhi aneka kebutuhan kalian, menyiapkan keperluan sekolah, menemanimu belajar. Namun, cinta Allah jauh lebih besar, Dia-lah yang menciptakanmu, Nak. Dialah yang membuatmu memiliki perasaan cinta dan bahagia itu. Dia-lah sumber cinta dan kebahagiaan itu. Dan dengan mencintai dan memahami kebesaran-Nya, kita akan merasakan kebahagiaan luar biasa dan cinta yang begitu menentramkan. Mungkin jawaban Ibu masih terkesan abstrak sehingga kalian tidak serta merta mengerti. Ibu sendiri pun belum mengerti sepenuhnya dan masih dalam proses mengurai jawaban yang semakin hari semakin terasa nyata. Ibu tidak ingin mendikte kalian, Nak. Kalian bebas menemukan jawaban kalian sendiri.  Rajinlah mengkaji kalam-Nya dalam Al Qur’an dan Al Hadist. Tentu kalian tidak ingin mendapatkan jawaban salah karena variable yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya kan? Temukanlah rumusan dari jawabanmu sendiri namun tetap berlandaskan pada kebenaran Al Qur’an dan Hadist. Jawaban yang akan kau dapat akan lebih terpatri di hatimu dan kebahagiaan murni itu akan datang kepadamu.

Ohya, nak, Ibu hampir lupa. Di luar sana, ibu yang pandai memasak selalu disanjung dan dipuja. Ketahuilah nak, Ibu sekarang berusia 22 tahun dan belum juga pintar memasak. Sementara dalam bayangan, Ibu selalu ingin menyiapkan sendiri makanan lezat untuk kalian sehingga Ibu bisa memastikan bahwa kalian mendapatkan nutrisi yang cukup untuk tumbuh sehat dan cerdas. Ibu juga ingin membuatkan bekal saat kalian sudah masuk usia sekolah. Supaya kalian tidak jajan sembarangan. Supaya kalian bisa menggunakan uang saku yang Ibu berikan untuk hal lain yang lebih bermanfaat.

Mungkin, sampai di sini dulu surat pertama dari Ibu. Semoga Ibu bisa menuliskan surat-surat cinta lagi kepada kalian. Ibu juga harus kembali belajar banyak demi kalian nanti. Ayah?? Ohya, Ibu belum bertemu dengan beliau, Nak. Nanti kalau sudah ketemu, coba Ibu sampaikan padanya untuk juga menuliskan surat padamu. 🙂

Surakarta, 10 Oktober 2013

Salam sayang dari Ibu.

Advertisements

Mari berdiskusi... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s