Studi di Luar Negeri

diambil dari blog.sarahlaurence.com

Oxford University – diambil dari blog.sarahlaurence.com

 

Banyak sekali orang Indonesia yang belajar di luar negeri. Banyak sekali orang menginspirasi dari perjuangannya memperoleh beasiswa di luar negeri. Mungkin beberapa orang menganggap kalau yang dikejar dari kuliah di luar negeri adalah prestige alias gengsi. Namun, haruskah luar negeri? Continue reading

Advertisements

Jawaban dari Doa-doa

Saat mulai menulis ini, saya sedang di kampus menunggu dosen pembimbing skripsi. Kampus sepi, meski parkiran begitu penuh seperti biasa. Ruang dosen juga kosong. Lalu pikiran menerawang, akankah dosen pembimbing datang hari ini? Handphone dari tadi anteng-anteng saja. Kebetulan fakta bahwa dua teman sekelas ujian hari ini berhasil menanamkan sugesti positif, “Tinggal sebentar lagi. Sabarlah.”

Jauh dari apa yang pernah saya harapkan bahwa hari ini saya sudah bisa memanjangkan nama dengan 3 huruf S.Pd. Continue reading

Motor

Sore hari kemarin, saya baru dalam perjalanan pulang dari Singosaren ke Kentingan, Solo. Naik pleki, kambing hitam saya, si motor. Sepanjang perjalanan bayangan Kota Solo 2-3 tahun yang lalu berseliweran. Banyak motor sih, hanya saja tidak sebanyak sekarang. Yang paling gampang adalah membandingkan kondisi parkir halaman Gedung E FKIP UNS tempat saya menuntut ilmu. Dulu, saat saya masih unyu-unyu semester awal (sekarang juga masih unyu >.<) parkiran hanya sebatas tempat parkir di dekat Kantin Yusri. Ada sih yang parkir di sebelah halaman baratnya, tapi tidak sebanyak sekarang. Yang sampai harus parkir di gang-gang karena sampai halaman sudah penuh sesak. Continue reading

Jalan Cerita Kita

The_Script__The_Camera_by_jakekimpton
gambar diambil dari deviantart.com
Pernahkah terpikirkan: kisah kita tak seindah novel, tak sedramatis sinetron, tak seromantis drama korea, tak sekeren biografi orang terkenal? Kenapa cerita kita tak sebagus itu? Kenapa cerita kita tak seinspiratif cerita mereka?

Cerita-cerita dalam film yang bagus, memiliki alur yang menarik. Dimainkan oleh aktor dan aktris yang memiliki akting yang menawan. Diambil gambarnya dengan mempertimbangkan angle yang bagus. Disutradarai oleh sutradara yang mumpuni. Jadilah sebuah film yang menuai sukses. Lalu kita terpukau olehnya. Dan seringkali berkata, “Aaaaahhh,,, enak ya… aku mau juga dong kayak tokoh utama di film itu…” Continue reading

Masih Tentang Angsana

I fall in love with those that fall: rain, snow (eventhough I’ve never seen this one yet T.T), leaves, and flowers like angsana.
Tahun ini, adalah kali ke empat saya menyaksikan tibanya musim gugur di Universitas Sebelas Maret tercinta. UNS memiliki tiga musim: musim kemarau, musim penghujan, dan musim angsana. Di musim kemarau, angsana ini adalah peneduh. Tersebar di berbagai sudut kampus, daunnya yang rindang mampu menahan terik matahari agar tidak langsung menerpa tanah. Di musim hujan, daunnya yang semakin menghijau masih terlihat menawan meski tak terlalu efektif menahan hujan sebagaimana dia menahan sengat matahari. Karena penuh dengan pepohonan (tak hanya angsana) inilah, UNS juga sering disebut sebagai The Green Campus (mungkin biar samaan sama Kampus Biru yang terkenal seantero negeri, :p).

Angsana di Musim Panas

Kampus Hijau

Saat negara-negara di belahan bumi utara mengalami musim gugur, UNS juga mengalami musim gugur. Hanya saja yang gugur bukanlah dedaunan namun bunga-bunga angsana yang kuning dan kecil-kecil. Saat musim ini tiba, jalan-jalan di UNS dipenuhi dengan hamparan kuning yang terlihat begitu indah dipadukan dengan hijaunya daun angsana dan birunya langit (jika kebetulan tidak sedang mendung). Apalagi jika bunga-bunga yang masih di tangkainya berguguran tertiup angin, rasanya sudah seperti di drama-drama Korea, mendadak suasana menjadi syahdu dan damai. Lalu serombongan mahasiswa menyerbu dengan kameranya masing-masing (secara harfiah). 😀

Angsana

gambar diambil dari: https://twitter.com/mahasiswaUNS/status/398810787839361024/photo/1/large

Mungkin seperti inilah rasanya jatuh cinta: damai, syahdu, dan bahagia tanpa setitik pun keinginan untuk memiliki sang angsana sendirian. Kita menikmati berdiam diri di antara guguran angsana, membiarkan bunga-bunga yang kecil dan ringan itu beterbangan ditiup angin. Membiarkan orang-orang lain juga menikmati perasaan yang sama. Saat musim angsana ini berakhir, tentu ada perasaan sedih, namun sejenak pula tersadarkan bahwa jika umur masih panjang, tahun depan kita masih bisa bertemu lagi. Hanya bertemu tanpa ingin memilikimu. Mm,.. mungkin ingin memiliki dengan nanti menanam sendiri pohon angsana di rumah #eehh :D.

Selamat musim angsana, mahasiswa UNS.

p.s. bunga jambu air yang berwarna pink juga indah saat bunganya berguguran. Efeknya seperti angsana, hanya saja radiusnya tidak seluas angsana. 😀

Merajut Mimpi #1

Mimpi itu bermetamorfosa. Dari luar mungkin terlihat stagnan. Namun dari segi esensial dia tumbuh berkembang.

dream-believe-love-66586

 

Saya ingat, waktu itu kelas 2 SD. Ibu guru meminta semua siswa ke depan kelas menceritakan mimpi masing-masing. Saat itu saya bilang saya ingin jadi guru. Meski sebenarnya saya ingin sekali jadi astronot, pilot, pramugari, apapun, yang penting bisa terbang. Namun, mimpi yang ini tidak saya sampaikan, hanya karena takut ditertawakan teman-teman. Continue reading