Merajut Mimpi #1

Mimpi itu bermetamorfosa. Dari luar mungkin terlihat stagnan. Namun dari segi esensial dia tumbuh berkembang.

dream-believe-love-66586

 

Saya ingat, waktu itu kelas 2 SD. Ibu guru meminta semua siswa ke depan kelas menceritakan mimpi masing-masing. Saat itu saya bilang saya ingin jadi guru. Meski sebenarnya saya ingin sekali jadi astronot, pilot, pramugari, apapun, yang penting bisa terbang. Namun, mimpi yang ini tidak saya sampaikan, hanya karena takut ditertawakan teman-teman. Ah, masih kecil :p.

Ketika SMP, saat ditanya oleh teman-teman, oleh guru, oleh siapapun, saya masih bilang: saya ingin jadi guru. Meski saat itu saya ingat, ada program TV favorit keluarga yang menayangkan petualangan seorang gadis keliling nusantara: Jelajah. Daftar cita-cita saya bertambah, saya ingin jadi guru, ingin jadi penerbang, dan ingin jadi presenter acara petualangan. Sinkron? Hmmm… Entahlah. Saya belum berpikir sampai di situ karena adegan dimana presenter dipaksa oleh penduduk lokal Papua untuk makan ulat sagu yang masih menggeliat-geliat  membuat saya pupus harapan. Saya tidak akan membayar piknik keliling Indonesia dengan makan ulat sagu hidup-hidup (sekaligus berpura-pura menikmatinya). Tidak akan! Mending bertualang sendiri, makan-makan sendiri. Gawat juga kalau harus bertugas ke Thailand dan menjajal kecoak goreng. *merinding*

Sampai di sini mimpi saya bertumbuh secara angka menjadi tiga: menjadi guru, menjadi penerbang, menjadi petualang.

Waktu SMA (sebenarnya dimulai dari SMP), saya terobsesi berat pada anime. Lalu saya bermimpi menjadi seorang dubber atau translator, pokoknya pekerjaan yang melibatkan kegiatan nonton anime dan dibayar. Saya pun mencoba mewujudkannya dengan mengikuti Simak UI dengan pilihan Sastra Jepang. Pilihan kedua adalah Arkeologi karena saya suka Sejarah dan Geografi. Dengan menjadi arkeolog, saya bisa keliling nusantara atau bahkan dunia mencari fosil. Namun, sayang sekali, UI menolak saya. Dubber/translator anime dan arkeolog: eliminated.

Sebenarnya ada mimpi satu lagi, yang juga kandas sebelum lepas landas: menjadi dokter. Apa mau dikata, Ibu tidak setuju. Baiklah, Bu. *hiks

Akhirnya mimpi berkembang menjadi delapan: menjadi guru, menjadi penerbang, menjadi petualang, pergi ke Jepang, menjadi ahli bahasa, menjadi sejarawan, menjadi ahli ilmu bumi, menjadi penyembuh. (sebenarnya tujuh saja, karena mimpi ke Jepang hanyalah destinasi spesifik dari mimpi petualangan).

Masuk kuliah, saya bertemu dengan kawan-kawan yang mimpinya satu per satu mulai terwujud. Ada yang berprestasi dalam bidang akademik, ada yang berprestasi dalam bidang penelitian, ada yang berprestasi dalam hal debat dan public speaking, ada yang berprestasi sebagai paduan suara, ada yang berprestasi sebagai entrepreneur, dll.

Terpicu oleh lingkungan, akhirnya kedelapan mimpi tadi bersatu, seperti megazord Power Ranger: saya ingin menjadi guru (1) yang membantu siswa saya nanti untuk berani bermimpi. Untuk itulah saya harus mumpuni. Saya harus belajar dan melihat lebih. Saya harus terbang (2) ke banyak tempat untuk belajar. Saya harus bertualang (3), mencari ilmu dan kawan baru.Saya harus melihat dunia dan menjadi ahli ilmu bumi (4) agar tidak tersesat di perjalanan. Saya harus menjadi sejarawan (5) dan belajar dari sejarah pendidikan di berbagai tempat. Saya harus menguasai bahasa (6) internasional untuk bisa melakukan perjalanan tersebut. Saya harus mampu menjadi penyembuh, menyehatkan (7) mimpi siswa (gawat juga kalau ada yang mimpi bisa tidur di kursi DPR :p). Setelah itu baru saya bisa jadi guru yang seutuhnya (menginspirasi).

Jepang? (8). Oh baiklah, ini masih jadi pertanyaan besar. Sebenarnya saya hanya ingin piknik: menjajal shinkansen, bermain ski di Hokkaido, dan mengunjungi desa-desa tradisional, istana, dan kuil yang tersebar di wilayah Kyoto dan Kamakura. Tak lupa mengunjungi Akihabara, pusat anime >.<.  Selain itu, saya juga ingin belajar (disambung-sambungin ah :p) dan menyaksikan sendiri, tentang orang Jepang yang begitu menjunjung tinggi budaya negeri, menghargai warisan leluhur, maju dan  mandiri, yang warganya dengan bangga bilang, “Saya warga negara Jepang” kepada dunia. Saya ingin siswa saya bukan hanya pandai mengolok-olok negara seperti memasangkan jargon ‘Inilah Indonesia’ tiap kali mereka melihat anggota DPR tidur dan pejabat korupsi. Saya ingin siswa saya move on dengan tidak hanya menertawakan dan bernyinyir-nyinyir saat melihat poster mantan presiden RI yang melambaikan tangan sembari berkata, “Pie, isih penak jamanku to?”. Saya ingin mengantarkan generasi muda bangsa menjadi generasi penggebrak dengan segudang prestasi dan cinta tanah air yang tinggi. Seperti warga negara Jepang yang mampu bangkit dari keterpurukan setelah dua bom atom 1945 dan menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia. Toh, untuk apa sukses kalau akhirnya tidak mampu memakmurkan negara dan membantu saudara dari kesusahan?

Saya ingin melihat semua orang bisa melambaikan tangan masing-masing dan berkata, “Jaman kulo langkung sae, Eyang.”

Dan pada akhirnya, cinta lama pun bersemi kembali. Cinta pertama saya untuk menjadi guru tumbuh dengan jalan yang tak pernah saya duga sebelumnya, yang mungkin tak masuk akal seorang siswa kelas 2 SD di sebuah pelosok desa bernama Gunung Air di wilayah Hutan Gunung gung liwang liwung. Perjalanan dalam dunia mimpi yang bermacam-macam itu ternyata menjadi petunjuk untuk menemukan mimpi sejati. Puzzle ini akhirnya mulai menampakkan wajahnya: GURU.

This has gotta be the good life.

-aspiring to be a S.Pd soon 🙂

Advertisements

Mari berdiskusi... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s