Produk Limited Edition

“Why am I different from others?”

“Why do you have to be like others?”

             Ini adalah cuplikan dialog dalam iklan salah satu merk shampoo yang ditayangkan di Thailand (entah tahun berapa). Saya mendapatkan video iklan tersebut dari seorang teman tepat satu tahun yang lalu. Biasanya iklan shampoo menggambarkan seorang wanita/laki-laki yang terlihat begitu bahagia saat keramas, yang setelah kering, rambutnya berkibar-kibar ditiup angin, wangi, tanpa ketombe dan rontok. Namun, alur cerita iklan ini berbeda dari iklan-iklan shampoo pada umumnya. Iklan ini justru berisi pesan moral yang sangat dahsyat, yang tidak bosan-bosannya untuk ditonton. Yang menandakan ini adalah iklan shampoo hanyalah adegan klise terakhir, dimana rambut sang model terlihat berkibaran ditiup angin (padahal sedang di panggung -_-) tanpa ketombe dan tidak rontok. *Tonton video klik di sini 😀

Why am I different from others?

            Gadis ini tunarungu. Tentu dia berbeda dari orang kebanyakan. Sebagian besar dari kita dianugerahi kemampuan indra dan fisik yang sempurna. Namun, apakah dengan demikian kita menjadi sama dengan orang lain?

Seseorang mungkin tidak dianugerahi kemampuan akademis yang mumpuni. Nilai-nilai di raport tidak jauh berbeda dengan KKM yang ditulis di sampingnya. Apakah dia harus merasa minder karena tidak mampu mencapai prestasi akademis yang diharapkan?

Hal yang kita pandang negatif terkadang menutupi fakta bahwa orang tersebut mumpuni dalam hal lain. Gadis itu memang tunarungu, tapi dia adalah pemain biola yang handal; sesuatu yang seharusnya tidak mungkin bagi seseorang yang tidak mampu mendengar. Namun, adakah yang tidak mungkin bagi Allah jika menciptakan dunia dan seisinya Dia mampu? Siswa yang nilai akademisnya pas-pasan mungkin memang tidak pandai dalam bidang tersebut. Bisa jadi bisa jadi bisa jadi ternyata dia memiliki bakat sebagai atlit, seniman, sastrawan, artis, pelawak, atau bahkan entrepreneur.

Tidak seharusnya kita merasa kecewa dan putus asa hanya karena pencapaian kita tidak sesuai dengan yang diharapkan atau karena kita berbeda.

Why do you have to be like others?

            Menjadi sama dengan orang lain, seringkali bukanlah ide yang cukup bagus. Produk masal banyak diproduksi. Dimana-mana ada. Orang cenderung kurang menghargai produk masal. Namun, produk yang limited edition langka; namanya saja limited. Harganya selangit. Lihat saja tas tangan buatan Hermes, Gucci, Louis Vuitton, dan teman-temannya. Untuk membeli saja (kabarnya) harus pre-order dulu karena memang limited edition. Banyak orang yang mencari dan menghargainya dengan harga tinggi. Berbeda dengan produk masal seperti Gucci (guccian), Hermes (hermesan), Louis Vuitton (Louis Vuittonan) dan kawan-kawannya, dimana-mana ada. Kualitasnya pun ala kadarnya. Orang-orang menghargainya dengan harga 1 per 1000 dari produk asli (atau bahkan dengan perbandingan yang lebih kejam :D)

Bukan berarti janganlah berprestasi. Tidak. Kita harus berprestasi dalam bidang yang kita sukai. Jadilah produk limited edition. Jadilah siswa berprestasi yang totalitas alias sangat berprestasi. Jadilah pemusik yang berprestasi. Jadilah petualang yang berprestasi. Jadilah seniman yang berprestasi. Jadilah dirimu sendiri dengan pencapaian yang tertinggi. Jadilah Hermes asli. Jadilah satu di antara seribu.

That’s why: should we be like others?

Advertisements

2 thoughts on “Produk Limited Edition

Mari berdiskusi... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s