Motor

Sore hari kemarin, saya baru dalam perjalanan pulang dari Singosaren ke Kentingan, Solo. Naik pleki, kambing hitam saya, si motor. Sepanjang perjalanan bayangan Kota Solo 2-3 tahun yang lalu berseliweran. Banyak motor sih, hanya saja tidak sebanyak sekarang. Yang paling gampang adalah membandingkan kondisi parkir halaman Gedung E FKIP UNS tempat saya menuntut ilmu. Dulu, saat saya masih unyu-unyu semester awal (sekarang juga masih unyu >.<) parkiran hanya sebatas tempat parkir di dekat Kantin Yusri. Ada sih yang parkir di sebelah halaman baratnya, tapi tidak sebanyak sekarang. Yang sampai harus parkir di gang-gang karena sampai halaman sudah penuh sesak.

Dulu, yang bawa motor sedikit. Banyak yang jalan kaki kemana-mana di wilayah kampus. Sekarang, yang jalan kaki jarang, langka. Biasa kan yang langka-langka gitu orang pada tertarik? Naah, kadang kalau saya lagi iseng ngandangin si pleki demi hidup sehat dan masa depan yang lebih baik lalu jalan kaki ke kampus, banyak mata yang ngeliatin (atau cuma perasaan saya saja?). Tidak ada yang istimewa di penampilan saya, dandan menor nggak, jilbab puter-puter nggak, jilbab ijo baju kuning rok merah juga tidak. Lalu apa? Saya jalan kaki berpanas-panas, sendiri.

Mungkin aneh kali ya ada yang jalan kaki? Di jaman serba motor begini, masih ada yang jalan kaki? Di jaman pertemanan begitu intens, sampai yang belum bermotor bisa minta jemput dengan teman yang bermotor, masih ada yang jalan kaki? Di jaman UNS punya bis kampus begini, masih ada yang jalan kaki dari Gedung E FKIP ke Perpus Pusat, panas-panas? Kenapa nggak naik motor? Kenapa nggak bareng temen, nggak punya temen? Kenapa nggak naik bis kampus, nggak tau kalau UNS punya bis kampus? Introvert ya, exhausted by social gathering? Pernah ada yang berpikir begini nggak sih (cari teman :p).

Nah, yang paling menarik adalah, saat semua pribumi mulai tersedot gaya hidup bermotor, para bule yang menuntut ilmu di Solo sepertinya agak telat ikut trend-nya. Saat para pribumi brum brum naik motor, para bule ini terlihat begitu kemerahan kulitnya tersengat sinar matahari, berjalan kaki di tepi aspal (trotoar hanya mitos di wilayah Ngoresan ke kampus). Ini pemandangan yang lebih langka lagi daripada gadis berjilbab dengan penampilan yang tidak mencolok jalan kaki panas-panas sendirian ke kampus. Bule, putih kemerahan, jalan kaki panas-panas ke kampus dengan langkah kaki yang panjang-panjang. Kadang mereka juga melambaikan tangan sesekali jika harus menyeberang jalan. Good sight, eh :p

Lalu, sekitar setahun terakhir, saya mulai menemui para bule yang dulu juga terkenal sebagai orang-yang-tidak-bisa-naik-motor bawa motor ke kampus, kebanyakan matic. Jadilah, semua orang: tua muda (mahasiswa semester tua dan semester muda maksudnya), pria wanita, pribumi dan ekspatriat naik motor semua. Lalu jalanan semakin penuh sesak oleh lalu lalang kendaraan bermotor. Lalu pejalan kaki semakin langka, bagai jarum di tumpukan jerami *apasih -_-.

Ohya, uniknya, ada salah seorang mahasiswa asal Jepang, asal motor-motor kita ini, tidak bisa naik motor. Bonceng motor saja ewuh banget. Sampai akhir waktu dia di Indonesia, dia belum bisa naik motor. Menurut penuturan seorang teman, dia sering jalan kaki dari daerah Gladak sampai ke daerah RS Kasih Ibu tempat dia indekos hanya karena tebengannya sampai di Gladak saja. Cerita lain lagi, sering saya melihat mahasiswi dari Jepang yang suka naik ontel ke kampus. Iya naik ontel. Dan saya yakin, dia juga tidak bisa naik motor buatan negaranya sendiri. Oh, politik dumping…. >.<

Tadi saya bilang sedang perjalanan kan? Nah, perjalanan saya sampai di daerah pom bensin Sekar Pace. Lamunan saya tersadarkan karena kaget ada mobil yang mengklakson di belakang. Rupanya ada mbak-mbak yang awkward banget naik motor sejenis Honda Legenda dengan warna motor (orange) dan bunyi yang cukup cetar mengendarai di sisi kanan jalan. Ternyata mbak itu bule. Mungkin baru bisa naik motor. Terlihat dari cara dia mengendarai yang begitu kaku. Saat di perempatan bangjo, kami sama-sama berhenti. Saya mencoba untuk tidak terlalu nggumun. Dalam hati, ojo nggumunan. Mbak bule putih naik motor, terus? Nah, lucunya, ada anak kecil yang dibonceng ibunya melihat si mbak bule bermotor ini. Melihat terus-terusan. Sampai ketika lampu hijau, mbak bule belok kanan dan saya dan ibu yang membonceng anak tadi lurus, si anak ini sampai terus-terusan menengok ke belakang sampai si mbak bule hilang di tikungan. Kenapa to, Le? Apa yang salah dengan mbak bule naik motor berbunyi dan warna cetar? Sebenarnya, seperti apa pandangan bule-bule ini di mata kita? Masihkah sisa-sisa penjajahan Belanda selama ratusan tahun itu diturunkan padamu, sehingga ada bule naik motor yang kalah bagus dengan motormu terlihat begitu aneh dan ajaib?

Saya tertawa dan bingung. Adik itu jujur sekali. Saya juga penasaran kok dek tadi. Penasaran dengan pandangan penuh tanya orang-orang pribumi yang melihat bule (baik jalan kaki maupun bermotor). Soalnya waktu saya beberapa kali di LN nggak ada yang begitu sama saya (apa gara-gara masih di ASEAN? Hehe). Jadi ada apa dengan bule? -_-

Ojo nggumunan.

Motor? Ohya, pleki sekarang siap dikandangkan. 😀

Advertisements

Mari berdiskusi... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s