Jawaban dari Doa-doa

Saat mulai menulis ini, saya sedang di kampus menunggu dosen pembimbing skripsi. Kampus sepi, meski parkiran begitu penuh seperti biasa. Ruang dosen juga kosong. Lalu pikiran menerawang, akankah dosen pembimbing datang hari ini? Handphone dari tadi anteng-anteng saja. Kebetulan fakta bahwa dua teman sekelas ujian hari ini berhasil menanamkan sugesti positif, “Tinggal sebentar lagi. Sabarlah.”

Jauh dari apa yang pernah saya harapkan bahwa hari ini saya sudah bisa memanjangkan nama dengan 3 huruf S.Pd. Setiap hari, setiap akhir sholat, dengan penuh semangat dan pengharapan selalu terselip doa untuk bisa lulus bulan September 2013 karena Allah sendiri berfirman bahwa

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu”

 (QS Al Mu’min: 60).

Hari ini, tanggal 22 November 2013 dan saya masih saja di sini. Berkutat dengan revisi. Main petak umpet dengan dosen pembimbing (saya terus yang jaga :p). Apakah doa saya tak terkabul? Baiklah, saya pun yakin bahwa mungkin takdir saya bukan September melainkan Desember 2013. Namun, sepertinya wisuda bulan itu pun tak terkejar. Meski begitu saya terus berdoa dan berdoa. Karena Allah adalah Maha Pengabul Doa. Tidak mungkin apa yang tertulis dalam Al Qur’an salah bukan?

Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

(QS Al An’aam: 115)

Selain itu,

Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat

(QS Al Hijr: 56).

Saya tidak boleh putus asa dan terus berdoa. Harus bisa ujian akhir tahun ini.

Dan beberapa saat kemudian, dosen pembimbing datang. Dengan mudahnya (Alhamdulillah) acc totalan dan jurnal. Sejurus kemudian beliau berkata, “Nia, segera cari tanggal ujian ya. Saya bisa tiap hari Senin, Rabu, dan Jumat.” Mungkin kesannya berlebihan, tapi saat itu saya ingin melompat, memeluk Bu Dosen dan mengerutkan wajah sekerut-kerutnya… Ujian!

Yah, memang pada akhirnya bukan September, bukan Desember namun (insyaAllah) Maret 2014. Dan saya mulai berpikir mungkinkah Allah hanya ingin menambahi kisah ini dengan bumbu-bumbu penantian, kesabaran, ketelatenan, dan segala pelajaran hidup lainnya agar hasilnya lezat? Jujur penantian ini melelahkan, ketelatenan ini menyita pikiran, menjaga semangat untuk terus maju meski sedikit demi sedikit benar-benar mengasah kesabaran. Tapi itu semua menjadi bumbu yang begitu lezat karena akhirnya saya bisa mengecap manisnya hasil dari perjuangan yang begitu lama.

Di sini, saya berpikir bahwa Allah sebenarnya tidak menunda pengabulan doa saya. Bukan pula tidak mengabulkan doa saya. Sama seperti yang dikatakan pada surat Al Mu’min tadi, Allah justru telah mengabulkan doa saya dalam bentuk yang lebih baik lagi. Maret 2014 (meleset hampir setengah tahun dari doa saya) mungkin tidak terlihat menyenangkan, namun justru itulah yang terbaik untuk saya.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

(QS Al Baqarah: 216)

Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi setelah saya (insyaAllah) wisuda Maret nanti kecuali Allah. Pun tidak ada yang tahu pula apa yang terjadi seandainya saya wisuda bulan September kemarin atau Desember nanti kecuali Allah. Namun, yang pasti, ini adalah jawaban dan keputusan terbaik yang telah Allah pilihkan. Sama halnya seperti Nabi Nuh AS yang tidak tahu bahwa banjir akan datang ketika beliau membuat kapal lalu ditertawakan oleh kaumnya. Nabi Ibrahim AS belum tahu bahwa akan tersedia domba ketika pisau nyaris memenggal buah hatinya. Nabi Musa AS belum tahu bahwa laut akan terbelah saat beliau diperintahkan memukulkan tongkatnya. Nabi Muhammad SAW belum tahu bahwa Madinah adalah kota tersebarnya ajaran yang dibawanya saat beliau diperintahkan hijrah ke sana. Yang mereka tahu adalah bahwa mereka harus patuh pada perintah Allah Ta’ala dan tanpa berhenti berharap yang terbaik. Ternyata di balik ketidaktahuan mereka, Allah telah menyiapkan surprise saat mereka menunaikan perintah-Nya. Sebagai aktor, kita hanya harus mengikuti arahan Sutradara. Sebagai aktor, saya harus mengikuti skenario takdir yang telah diberikan kepada saya. Finally, Alhamdulillah untuk hari ini. Alhamdulillah untuk jawaban atas doa-doa yang telah lama saya panjatkan. InsyaAllah, ini lebih baik dari yang pernah saya harapkan. Terima kasih, Ya Allah. Alhamdulillah. >.<

menunggu tanggal, menghitung hari >.<

menunggu tanggal, menghitung hari >.<

p.s.

selesai ditulis setelah konsul berakhir, meski begitu masih bisa dikategorikan morning petrichor karena tulisan dimulai di pagi hari >.< (#ngeles)

terima kasih untuk kakak Tengil Atin Kurniawati untuk tausiyahnya yang saya masukkan di tulisan ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua. 😀

Advertisements

3 thoughts on “Jawaban dari Doa-doa

Mari berdiskusi... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s