Tak Pernah Memiliki

Me: Mbak, kalo libur datanglah jumat. Kita ikut tahsin. 🙂
Mbak: Jumat persiapan rapotan di sekolah, Nduk.
Me: (Hampir bertanya tentang Sabtu)
Mbak: Sabtu anak-anak rapotan dan pulang.

Sepenggal dialog ini membuat saya terharu biru. Sepenggal dialog ini tidak pernah terjadi tahun lalu. Pun tak pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Namun, dialog seperti ini pasti akan terjadi lagi keesokan hari dan di hari-hari berikutnya.

Sahabat, selama ini saya percaya bahwa saya memilikimu. Nyatanya tidak. Seharusnya kata memiliki didefinisikan ulang. Kalau perlu didefinisikan sebagai dua kata yang berbeda. 1) sifat kepemilikan semu yang merupakan hak manusia dan 2) sifat kepemilikan hakiki, kepemilikan mutlak yang merupakan milik-Nya.

Sahabat, selama ini saya percaya bahwa saya memilikimu. Dulu, pintu kosmu terbuka setiap saat (atau memang saya yang selalu tidak sopan main nimbrung setiap saat dan bikin ulah). Dulu, jika ingin bertemu, tinggal sms/telp dan kita akan segera bersama. Dulu, jika salah satu dari kita ada acara mendadak, ada hari lain yang siap menggantikan. Sekarang, semua itu berbeda. Saya telah salah menilai persahabatan kita.

Sahabat, selama ini saya percaya bahwa saya memilikimu. Nyatanya kamu sama seperti raga yang selama ini menjadi alat hidupku. Nyatanya kamu sama dengan gigi yang sewaktu-waktu bisa patah dan copot. Nyatanya kamu sama seperti sehelai rambut yang sewaktu-waktu bisa rontok. Nyatanya kamu sama dengan nyawa yang sewaktu-waktu bisa Dia ambil. Kamu bukan milikku. Kamu adalah milik-Nya. Sama dengan raga, gigi, dan rambut; kamu adalah anugerah yang Dia berikan untukku.

Sahabat, bersama dirimu saya belajar mencintai tanpa berusaha memiliki. Tidak ada dayaku untuk mencegah kalian meniti jalan masing-masing. Pun tak manusiawi mencegah si Kakak untuk diambil orang dalam waktu dekat. Tak ada dayaku untuk bisa memiliki kalian lagi seutuhnya seperti dulu. Kalian adalah cobaan-Nya. Kalian adalah titipan-Nya yang indah. Kalian adalah anugerah-Nya yang kesemuanya seharusnya disikapi dengan bijak.

Seperti merpati, kalian akan temukan kebebasan bukan dalam sangkar kepemilikanku. Seperti merpati, kalian akan menemukan kebebasan justru saat saya biarkan kalian terbang menjauh. Bukan berarti kalian tak pernah kembali bukan? Selamat menempuh hidup baru, Sahabat. Entah sebagai seorang guru sekaligus mahasiswa S2, atau sebagai seorang mahasiswa S2 dan istri. Suatu hari pun pintuku pasti juga akan terbuka. Dan sama seperti kalian, saya juga akan terbang pergi. Terima kasih untuk selama ini, untuk hari esok, dan untuk persahabatan yang tak pernah kita miliki.

I wish nothing but the best for you.
Three Cats
Especially dedicated for Tengil Family and all of my friends. Kalian adalah anugerah-Nya yang indah.

Advertisements

Mari berdiskusi... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s