2013

Tahun ini adalah titik balik hidup saya.

Awal tahun ini diawali dengan kegalauan dan bertumpuknya pertanyaan-pertanyaan tak terjawab yang muncul di kepala. Pertanyaan semacam, ‘Siapa saya,’ ‘Untuk apa saya hidup,’ ‘ Untuk apa saya di sini,’ ‘Untuk siapa saya berbuat begini dan begitu’…. Dan masih banyak pertanyaan lain yang pada akhirnya menuntun saya menuju titik tersebut.

Satu titik yang begitu berharga. Dimana dengan ajaib semua terjawab dengan indahnya saat saya mulai rajin membaca tulisan-tulisan teman, status bermanfaat, renungan-renungan, dan yangpaling istimewa: terjemahan Al Qur’an.

Siapa saya: saya Nia, ummat Muhammad, makhluk ciptaan-Nya.

Untuk apa saya hidup: saya hidup/diciptakan untuk mencintai-Nya, menyembah-Nya

Untuk apa saya di sini: memantaskan diri demi pertemuan agung dengan-Nya di hari akhir

Untuk siapa saya berbuat begini dan begitu: untuk Dia, untuk menggapai ridho-Nya.

Jutaan kali ‘alhamdulillah’ sepertinya tak cukup untuk menggambarkan rasa syukur atas tahun yang begitu hebat ini. Bagaikan air, pelajaran di tahun ini mengalir bagaikan air terjun, begitu tiba-tiba, begitu banyak, begitu sejuk (atau mungkin dari dulu sudah begitu banyak pelajaran yang Dia berikan, namun hati yang mati suri sepertinya susah untuk meraba pelajaran yang ada). Semoga kita semua termasuk hamba-Nya yang diberkahi anugerah tak ternilai: keimanan dan penjagaan hati. Semoga kita termasuk umat yang akan mendapat syafaat Rasulullah di hari akhir nanti.

Akhirnya hidup saya memiliki tujuan yang konkrit. Bukan sekedar wacana. Bukan sekedar manis di mulut. Bukan sekedar ‘sepantasnya dan sewajarnya’ muslim harus begini begitu. Mungkin memang agak terlambat. Di usia yang sudah kepala dua ini baru sadar? Kemana saja situ, Kakak?

Saya dipertemukan dengan ujian dahulu sebelum sampai di titik ini. Saya diuji untuk bisa memahami bahasa cinta-Nya yang tak terkira indahnya. Ibarat cuci piring, hati ini digosok dengan abu gosok dan sabut kelapa yang kasar untuk menghilangkan kotoran. Memang tak langsung bersih, dan meninggalkan banyak guratan, namun siraman rohani dalam jamaah dan forum-forum yang bertasbih kepada-Nya insyaAllah bisa menyembuhkan guratan-guratan tersebut, dan membersihkan sisa-sisa kotoran yang ada. Ah, ini adalah hak Allah untuk menilai, apakah saya layak berbicara seperti ini atau tidak.

Selalu ada hal yang bisa disyukuri. Tak terhitung hal baik terjadi, terlalu banyak untuk bisa satu per satu disyukuri. Dilihat dari mana pun, pengalaman menjauh dari cahaya-Nya bukanlah pengalaman yang ajaib bin menyenangkan. Dilihat dari mana pun, baru berjamaah setelah usia sudah berdigit awal dua, menimbulkan pertanyaan: apa saja yang sudah kau lakukan selama dua puluh tahun terakhir? Sudah kau habiskan untuk apa saja waktu 1/3 rata-rata umur umat Muhammad yang kamu miliki? 1/3, angka yang sangat besar.

Namun, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui,” (QS Al Baqarah: 216; Sapi Betina: 216). Boleh jadi pengalaman 1/3 hidup jauh dari cahaya adalah sesuatu yang buruk, yang patut disesali. Namun, apakah dengan saya hidup selalu dalam cahaya akan membuat saya seyakin ini akan kebenaran-Nya? Tentu bagus jika kita dijaga Allah dari awal, dijaga keistiqomahannya, dilindungi dari perbuatan tercela. Dan bagi saya, biarlah 1/3 waktu tersebut menjadi pelajaran baik bagi saya sendiri maupun orang lain. Dari sudut pandang ini, saya merasa beruntung telah dipertemukan dengan indahnya jamaah. Pengalaman memandang langit dari lembah membuat saya tersadar bahwa langit di atas itu begitu indah. Sehingga ketika saya mendekat kepada cahaya dan awan, saya akan tahu bahwa cahaya jauh lebih indah dari kegelapan di bawah sana. Dan sekali lagi, adalah hak Allah untuk menentukan apakah saya termasuk umat yang beruntung atau tidak. Yang pasti, saya akan selalu berusaha untuk mencintai-Nya dan layak untuk Dia cintai.

Entah hanya perasaan saya atau memang demikian adanya, saya merasa ada kekuatan ajaib yang menyeret saya dengan paksa untuk kembali ke dalam lindungan cahaya. God granted me second chance. Tinggalkan jins, jilbab tipis, baju lengan 3/4, dan salaman dengan non-muhrim. Tinggalkan sikap menunda-nunda sholat, sikap mengabaikan amalan sunnah, dan sikap masa bodoh. Sambut rasa ingin tahu yang tak terbendung, menyelami kalam-Nya dan menemukan begitu banyak jawaban di sana. Di sini, dimana semakin banyak saya belajar, semakin merasa sedikit ilmu yang telah saya punya. Di sini, saya menemukan puzzle yang sempat hilang. Di sinilah saya seharusnya berada. Saya telah bertemu dengan tempat dimana saya ingin hidup, dalam lingkup jamaah, dalam lindungan cahaya. Dan untuk yang ke sekian kali, biarlah Allah yang menilai. Semoga Allah berkenan untuk senantiasa menjaga kita agar terus istiqomah dan tidak tersesat dari jalur cahaya.

Dan sebentar lagi, tahun yang indah ini berakhir. 1/3 waktu yang insyaAllah saya miliki.

Demi masa.

Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,

Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.

(QS Al ‘Ashr: 1-3; Masa: 1-3)

Kos Cipta Murni, Ngoresan, Jebres, Surakarta

11.25 p.m., 31 Desember 2013

tak sedang dalam penantian detik-detik tahun baru

Advertisements

Mari berdiskusi... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s