Penting Nggak Penting (A Series of Comedy of My Life)

Sekali lagi saya diingatkan tentang betapa tidak njawani-nya wajah dan pakulitan saya. Perdebatan yang penting nggak penting seringkali terjadi di sekitar. Penting karena saya jadi ikutan penasaran, nggak penting karena apa pengaruhnya jika memang saya bukan berdarah Jawa? Jika dirunut dari sejak saya lahir, banyak kejadian lucu karena kesalahpahaman tentang apa sebenarnya etnis saya (yang mungkin juga terjadi pada orang lain dengan muka tidak biasa -kalau boleh dikata luar biasa- emm…. luar dari kebiasaan seperti punya saya). Dan semakin banyak yang bertanya atau salah paham, semakin saya penasaran untuk merunut sejarah keluarga saya.

Oke, saya pikir, merunut asal usul sebaiknya ke leluhur yang paling tua yang saya tahu. Dan orang yang paling sepuh yang saya dengar ceritanya adalah kisah tentang Mbah Buyut dari pihak Ibu. Mbah Buyut saya bernama Sono Pawiro. Jawa sekali bukan? Datte sono.. sono namae wa ‘Sono’… ah, ie, nandemo nai 😀. Hmm… tidak begitu banyak cerita beredar tentang beliau. Yang saya tahu, dulu Mbah Buyut dan istri tinggal di dekat pasar desa yang sekarang tanahnya dipakai untuk Balai Desa. Kerjanya apa? Duh saya tidak tahu juga. Semacam mandor pasar? Sepertinya. Seingat saya simbah (anaknya mbah buyut :p) dulu ngendiko begitu. Sekarang, simbah sudah tidak punya daya upaya lagi untuk bercerita karena penyakit yang dideritanya (semoga masih diberi kesempatan untuk sembuh :)). Yang jelas, Mbah Parni (Mbah Buyut putri), denger-denger masih semacam orang ningrat. Ponakannya Mbah Demang di desa kami dulu. Mbah Parni orangnya sangat miyayeni. Kata simbah, dulu belum ada selepan ..eemm.. penggilingan padi maksudnya. Para wanita, masih harus nutu kalau mau makan beras. Semacam kegiatan numbuk padi yang ada iramanya itu. Nah, mbah buyut yang miyayeni, sering sembunyi di senthong, nggak mau ikutan nutu. Simbah buyut ini cantik. Kalau orang desa kebanyakan gelap kulitnya (belum lagi busikan karena memang jaman dulu produk perawatan yang terbatas). Simbah buyut ini kuning langsat. Sabun mandinya nggak sembarangan. Jaman dulu pakai sabun Lux, yang model iklannya Sophia Loren. Anak cucunya saja kalah, karena mereka masih pakai sabun lerak, semacam sabun cair (yang justru ngetren sekarang, lol), dibuat dari tetumbuhan, dan murah, yang tidak terdeteksi siapa yang mengiklankan. Oleh karenanya, Ibu saya mengaku sering modus. Kalau mbah buyut mampir ke rumah dan numpang mandi (bawa sabun sendiri dong, nggak level sama sabun lerak :p), Ibu gage-gage ikutan mandi. Biar bisa mandi pakai sabun Lux yang wangi, terkenal, dan juga mahal itu. Dan bahagianya kalau sabun simbah buyut udah kecil (sabun batang yang lama dipakai akhirnya kecil juga :D), pasti nanti ditinggal. Wah, Ibu langsung rajin mandi kalau sudah begitu. lol.

Sabun yang bikin Ibu suka modus (diambil dari urun.gittigidiyor.com)

Sabun yang bikin Ibu suka modus (diambil dari urun.gittigidiyor.com)

Nah, dari sini mungkin bisa ditarik kesimpulan dari mana pakulitan saya berasal. Pernah sekali ketika saya main ke kota kecamatan, saya ditanya oleh ayah teman saya. “Asalnya darimana?” “Sanan, Pak.” “Oh, cucunya Bu Amir?” “Oh, bukan Pak. Itu adik simbah saya.” “Hahahaha, ternyata masih saudaraan. Itu keluarganya Pak Amir kok putih-putih gitu ya?” Saya cuma cengar-cengir. Ndak tahu saya. Masih untung Bapak tadi nggak manggil saya Singkek seperti yang dilakukan simbah. Kalau saya nakal, simbah suka bilang, “Woo… Singkek kolontong.” Tentunya dengan nada bercanda biar nggak SARA :p. Apa itu singkek? Pernah juga saking seringnya simbah begitu (yang mana berbanding lurus dengan seringnya saya bandel) simbah bilang, singkek itu orang Tionghoa yang pelit dan kikir. “Lha kalo kolontong, Mbah?” “Ha embuh, yo pokoe kui artine.” Walhasil makinlah saya penasaran.

Image

Muka Singkek Kecil (Saya, 4 tahun)

Singkek itu istilah untuk orang Tionghoa pendatang baru. Bukan orang Tionghoa keturunan yang sudah lama menetap. Secara etimologis, singkek berasal dari penggabungan dua suku kata dalam dialek suku Khek: sin yang artinya ‘baru’, dan khe yang artinya ‘tamu’. Istilah ini hanya dikenal di Jawa untuk menyebut orang Tionghoa yang baru datang ke tanah Jawa. Kata ini juga sering dimaknai negatif, seperti yang dilakukan simbah, sebagai orang Tionghoa kikir dan asosial. Stereotip ini mungkin berasal dari sebagian orang Tionghoa yang berprofesi sebagai mendring (lintah darat) di jaman kolonial Belanda. Meski banyak singkek berprofesi lain, namun orang terlanjur menganggap semua orang Tionghoa kikir dan asosial. Jadilah, singkek bukan berarti Tionghoa pendatang baru lagi. Tapi lebih ke orang cina yang kikir dan pelit (mulai rasis, maaf -_-). (dikutip dari Suara Merdeka, Minggu 6 Februari 2005: Singkek, Siapa Mereka? Susah Kumpul Karena Sulit Omong).

Lalu kolontongGoogle bilang itu semacam makanan khas Garut. Jadi makin ngaco kalau digabungkan. Yah, anggap saja kolontong itu berasal dari toko kelontong. Jadi singkek kolontong secara ngawur dapat diartikan sebagai orang Tionghoa kikir yang mengelola toko kelontong. Benar seperti itu? Hanya Allah dan simbah yang tahu.

Masalahnya, darimana saya mendapat muka singkek ini? Yang benar-benar sipit itu Bapak. Mata ibu bentuknya seperti almond. Mata saya, sama seperti punya Bapak, kotak. Rectangular kata murid les bahasa Inggris yang justru menunjuk mata saya saat saya minta mereka mencari benda berbentuk kotak di ruang kelas -_-. Entah kenapa, bisa beda dengan mata saya waktu kecil yang mirip punya ibu. Ah, kehidupan ini penuh misteri. Jadi, mungkinkah bapak yang keturunan singkek? Hmm… simbah kakung dari ayah namanya Paiyo. Sounds fishy, no? Pai Yo? Sayangnya, tidak banyak cerita tentang Mbah Paiyo karena sejak kecil saya besar di rumah Mbah Wiji, anak Mbah Parti yang priyayi. Dan keterbatasan informasi membuat saya menyerah menerka-nerka dan akhirnya bertanya pada simbah, “Mbah, ada po yang China di keluarga kita?” “Ora. Lha ngopo?” “Lha Dek Indah i, lho, moso tekon simbahe, ‘Mbah, Mbak Nia kae opo keturunan penjajah?‘” Ziiingggggggg ~~~~ Yang dulu menjajah kan Jepang ya. Percabangan kasus baru yang sampai sekarang masih penting nggak penting untuk dibahas.

Orang Tionghoa seringkali beragama Budha, Konghuchu, atau Kristen. Nah, waktu SMP sampai SMA (saya mulai berjilbab kelas 1 SMA semester 2), banyak yang bertanya, “Ni, kok kowe ra metu?” “Metu nyandi?” “Iki kan meh pelajaran agama.” Saya tilik mukanya serius bener. Dan memang kita baru kenalan. Dikiranya saya Tionghoa tulen. Mata kaa… -_-

Pernah waktu itu mendekati perayaan Imlek. Teman dekat saya menggoda saya dengan berkata, “Imlekan no, Ni?” “Iyo no. Ngko lak akeh kue keranjang neng omahe simbah.” Dan gawatnya, sehari setelah imlek, ada lagi wajah polos nan lugu yang bertanya dengan muka serius, “Ni, bawa kue keranjang nggak? Katanya mau bawa?” Gedubrak!

Peristiwa model beginilah yang paling sering terjadi di sekitaran muka saya. Dan yang paling mutakhir adalah saat acara Cultural Night tahun lalu di kampus dimana saya menjadi panitia. Saat itu, saya sedang berdiri di dekat stand salah satu peserta. Ada seorang bapak-bapak dengan kamera besar tergantung di lehernya datang dan bertanya macam-macam tentang acara dalam Bahasa Inggris. Saya jawab pula pakai bahasa Inggris. Mungkin saja si Bapak ini orang Thai, atau Kamboja, atau Filipina, atau Malaysia yang belum fasih berbahasa Indonesia sehingga memilih menggunakan bahasa Inggris.  (Muka orang ASEAN memang setipe. Di acara multikultural semacam ini, saya malas main tebak-tebakan :D). Sampai pada akhirnya, “By the way, where are you from?”. Dengan mengernyitkan alis saya jawab, “Wonogiri.” “Masa’, Mbak?” mendadak code switching. “Nggih, Pak. Lha dos pundi?” “Owalah wong Wonogiri to. Tak kiro wong Vietnam.” Saya menoleh ke banner di belakang saya, banner milik mahasiswa Vietnam. Kami pun tertawa. Ternyata si Bapak ini orang Solo yang kerja di Solopos. Bapak ini tidak ikut saat sehari sebelumnya di acara Gladi Resik saya bantah-bantahan dengan orang Tanzania, Korea, Kamboja, Thailand, dan (parahnya) Laweyan yang menuduh saya berbohong tentang kewarganegaraan saya. Peristiwa lucu semacam ini terus menerus berulang. lol.

“Nggak, bukan China. Beda. Orang China, Korea, dan Jepang itu bisa dibedakan. Nia itu lebih ke Jepang,” kata Kak Dinda beberapa hari yang lalu, sejalan dengan pertanyaan polos anak tetangga yang menyangka saya keturunan penjajah (tidak bermaksud mengungkit masa lalu. Kita temenan ya sekarang?  Tomodachi wa ne? :)). Yah, semoga muka saya bisa mempermudah saya mendapatkan ijin visa jika suatu hari nanti saya diberi kemampuan untuk mengunjungi Kyoto :D.

Nahloh, malah kemana-mana. Intinya, sampai detik ini pun, saya masih penasaran dengan identitas leluhur saya. Saya meyakini bahwa setiap masalah pasti ada sebabnya. Setiap mata sipit, pasti ada cinanya, #eh…  Saya rasa tidak ada jeleknya menelusuri hal ini karena saya anggap lucu dan unik. Sempat terpikir saya ikutkan sample DNA saya ke program National Geographic yang menjamin untuk bisa menelusuri leluhur kita dari masa 100.000 tahun silam dengan membayar sekian dollar. Ah, terlalu lama. Saya tidak yakin apakah kebudayaan China dan Jepang sudah terbentuk masa itu. Dan saya tidak pula sedang dalam keadaan surplus sehingga merelakan uang jutaan rupiah demi kejelasan asal-usul. Yang jelas saya anak cucu Adam dan Hawa :D. Anak dari keluarga yang lucu dan mencintai saya. Maka, untuk sementara, saya hanya bisa menikmati komedi yang terjadi di sekeliling sembari mengumpulkan bukti dan fakta atau lebih tepatnya konspirasi tentang kemungkinan ada darah lain di keluarga kami. Dan sementara itu, anggap saja saya ini darah murni Yunan, leluhur orang Indonesia yang datang 1500 tahun lalu dari daratan China yang datang ke Indonesia dan membentuk peradaban yang kita lihat sekarang. *sigh. So much for unimportant matter. Sasuga A ketsuekigata wa. :3

Image

Cukup kontroversialkah?

Advertisements

7 thoughts on “Penting Nggak Penting (A Series of Comedy of My Life)

  1. Hihihi. Xin Nian Kuai Le~~~tp entah jg ya, krn byk kasus teman2ku asli jawa mukanya chinese. Dan my ideal type jg jawa chinese #piye tho

Mari berdiskusi... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s