Sesuatu yang Berharga

Seringkali kita tidak menyadari betapa berharganya sesuatu sebelum sesuatu itu pergi. Mungkinkah perasaan itu muncul karena sesuatu itu sudah mencapai level ‘lebih dari penting’? Dimana sesuatu itu telah menjadi bagian dari kita, yang kita bawa kemana-mana, tanpa kita sadari? Seperti halnya nikmat sehat, yang mana kita seringkali sadar betapa berharganya kesehatan ketika kesehatan itu diambil dari kita.

Ataukah mungkin karena kita ‘belum’ pernah mensyukurinya? Sehingga ucapan, “Aah, waktu begitu cepat berlalu.” Lalu kita sadar bahwa waktu yang kita habiskan bersama teman-teman selama beberapa tahun terakhir ini adalah sesuatu yang ‘pada akhirnya’ kita syukuri?

Atau mungkin karena keserakahan? Sebagaimana rumput tetangga lebih hijau? Menyesali apa yang kita miliki karena menginginkan apa yang dimiliki orang lain?

Hari ini adalah masa lalu di hari esok. Hari ini mungkin adalah hari yang akan kita rindukan esok. Kita diciptakan untuk berevolusi. Menjadi lebih dan lebih baik setiap harinya. Sehingga tak ada hari kemarin lebih baik dari hari ini. Sehingga happy ending menjadi kenyataan. Setiap momen, setiap detik dari waktu yang ada harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Ah, berbicara tentang sesuatu yang berharga, selalu teringat kalimat berikut:

“Tahukah kau, untuk membuat seseorang menyadari apa yang dirasakannya, justru cara terbaik melalui hal-hal menyakitkan. Misalnya kau pergi. Saat kau pergi, seseorang baru akan merasa kehilangan, dan dia mulai bisa menjelaskan apa yang sesungguhnya dia rasakan.” Kalau itu tidak terjadi, maka memang bukan sesuatu yang spesial. Tidak terbukti oleh waktu dan jarak.

–Tere Liye, novel “Sunset Bersama Rosie”

Saat merasakan kehilangan, tak serta merta seseorang akan kembali mencari apa yang hilang. Menjemput apa yang dia tinggalkan. Bisa saja dia hanya diam karena memang rasa kehilangan itu tidaklah kuat. Atau bisa saja meski rasa kehilangan itu kuat namun dia memilih diam. Tidak selalu ketika dua orang saling rindu, saat dua orang saling kehilangan, membuat mereka saling mencari satu sama lain. Mereka bisa saja malah sama-sama diam, seolah tak bisa saling mencari. Seolah ada kekuatan besar yang menghalangi mereka, membekukan kata, menghentikan langkah, menutup jalan. Karena memang Tuhan tak menginginkan mereka bersama. Karena mereka berasal dari dua bagian yang berbeda. Karena memang, mereka bukan untuk satu sama lain. Di sinilah campur tangan Allah itu nyata.

*menulis sesukanya, brainstorming tanpa edit @Kos Cipta Murni, Jebres, Surakarta*

Advertisements

Mari berdiskusi... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s