Lagi dan Lagi (A Series Comedy of My Life)

Sudah berapa lama sejak terakhir post ya?

Banyak pikiran yang hendak dituangkan ke dalam tulisan panjang (bukan semata 140 karakter twitter atau di facebook yang rata-rata pembacanya males baca tulisan panjang :p). Blog memberikan ruang dan ujian kepada tukang kepo yang sebenarnya, yang dengan gigih mampu membaca berderet-deret paragraf dari yang serius sampai yang kacau seperti ini (mulai salah arah -_-).

Ohya, sebagai pemicu semangat ngeblog lagi, hari ini saya putuskan untuk menuliskan hal-hal random, yang mungkin tak layak untuk dipublish (secara keseriusan, klo konten insyaAllah lolos KPI :D).

Ohya kemarin dapet kenalan baru. Ceritanya kumpul-kumpul sama temen-temen. Nah temennya ini bawa temen lagi. Kenalan deh kita. Rata-rata orang Solo asli. Tapi ada juga orang Aceh dan orang Kalimantan Utara (nahloh, provinsi baru lho ini, kemarin aja loading, Kalimantan utara? Sabah Serawak? hoho)

A (orang Kalimantan yang masih bingung dia masuk Kaltim apa Kalut): Tapi Nia nggak kayak orang Jawa. Mirip orang Kalimantan.

Nia: (mbatin, Dayak maksudnya? O.o)

B: Iya sih, China-china gitu mukanya.

C: Nggak, Nia itu lebih ke Jepang.

D: Mungkin ada keturunan Jepang gitu kamu?

Nia: Hehe.. nggak tahu.

Yahh,, ini udah semacam kaset rusak, ini mulu yang dibahas. Saya juga bosan sodara sodara sekalian. Dan nggak asik klo bosan sendirian :D. Setidaknya dari sini ada hikmah yang bisa diambil: tambah satu perbendaharaan lagi, Dayak.

Hmm… apa lagi ya..

Ohya, hari-hari pertama pasca perpanjangan nama menjadi Nia Annisa Fitri, S.Pd (8 Maret kemarin). I should tell you that nothing changes! Literally! Hari-hari dihabiskan glundang-glundung seperti biasa. Meski sudah bukan mahasiswa lagi, sering saya cari modus buat ngampus. Sekedar menyapa Yu Sri si Ibu Kantin PBS dan ngajak ngobrol temen-temen yang masih berjuang menemui dosen. Tiap pagi di tiga minggu pertama, saya selalu mengirim pesan broadcast ke Lisa dan Kur, “Ngampus nggak?” seolah sudah dijadwal otomatis sama si hape macam alarm. Eh klo dipikir-pikir ini malah jadi makin mengenaskan dari masa-masa skripsi dahulu kala -_-.

Lain dari itu, bulan setelah tanggal bersejarah itu saya hidup sendiri. Berdikari lah. Kata Ibu udah gede, sono cari duit sendiri, merantau, bisa nggak, wong udah sarjana.

Yaaaa… bisa sih. Gini-gini part time di salah satu bimbel ternama di Solo. Lumayan banget bisa buat hidup mandiri (tapi belum ada sisa yang pantas buat disisihkan utk upeti ke rumah, aww). Dan bulan pertama berakhir dengan tragedi. Salah perhitungaaaaannn!! Gegara sering ngampus, sering tergoda rayuan Bu Kantin dan sering makan di kantin, sering kebawa temen yang mendadak ngajakin makan, bulan ini saya positif minus. Dan pagi ini, saya tuliskan blog ini dengan sepotong kue tart dan teh rendah gula (cieileh :D) hasil rampokan, um, hasil oleh-oleh dari ultah salah satu murid di hari Sabtu kemarin (masih enak kok, hiks). Jadi tiap guru (dari EF) dapet sebunder roti tart manis gitu, payung gede, travel bag pink hello kitty, mug hello kitty, dan sekotak makanan dari sebuah restoran yang terbilang sangat waw bagi saya yang mantan mahasiswa pas-pasan ini. Pulang-pulang membawa kebaikan sang ortu si bocah ini rasanya bahagia aneh pekewuh piye gitu. Soalnya kado yang saya kasih nggak sebanding blas sama buah tangannya.

Sepotong Kue Tart dan Teh Tawar

Sepotong Kue Tart dan Teh Tawar

Bisa ditebak, kita-kita para guru bermotor ini (saya, Gaby, Neny, dan Mas Ben) cukup kerepotan juga bawa oleh-oleh seabrek ini. Kue tart terpaksa saya taruh di jog pleki yang lumayan waw buat nyembunyiin satu bocah (disisipi cardigan dan mantol biar nggak goyang-goyang kuenya pas diduduki *duh -_-), payung saya selipkan di tas ransel serasa pendekar, travel bag di space depan si pleki, mug di tas, dan sekotak makanan yang juga harusnya masuk tas tapi malah ketinggalan di parkiran. Rejeki buat bapak parkir.. Hohohohoo….

Mas Ben, Gaby, Neni, Nia, di ultah Sasha :)

Mas Ben, Gaby, Neni, Nia, di ultah Sasha 🙂

Ohya, dan setelah hampir lima tahun saya di Solo. Hari Jumat 18 April kemarin adalah kali pertama masuk Keraton.

Keraton Surkarta Hadiningrat

Keraton Surkarta Hadiningrat

Suasana masuk keraton ayeeeemmmm banget. Sempat ada komedi saat melihat kereta-kereta kencana milik keraton, penulisan bahasa Inggrisnya gagal total di bagian grammar. Pulang-pulang nyesel banget nggak nitip note buat bapak penjaga, yakali biar dibenerin itu bahasa Inggrisnya. :D. Soalnya kan banyak turis asing juga. Malu lah, bahasa Inggrisnya kacau :(. Selain itu, saya dan teman-teman berharap banget musium Keraton Solo segera dipugar, kondisinya banyak debu dan banyak kerusakan yang tentunya sangat berpengaruh kepada kepuasan pengunjung baik lokal maupun luar negeri. Sedih deh pokoknya lihat keraton. 😦

Salah Tata Bahasa :(

Salah Tata Bahasa 😦

Nah, ngomongin soal turis asing, kemarin sempat dapet semburan uneg-uneg temen ngajar. Dia bilang, “Kita itu di sini rasanya kayak animal tau nggak (duh, nggak tega nerjemahinnya, tahu lah ya.. hehe). Kamu pernah nggak nongkrong sama temen bule?”

Me: Nongkrong? (Nemu arti kalimat itu agak loading banget di kepala karena emang saya anak baik-baik rajin menabung yang nggak doyang nongkrong :D)

Mas Jon: Iya, jalan-jalan sama temen bule. Kita itu rasanya kayak animal di kebun binatang. Semua orang ngeliatin. Kayak gini nih, (si mas Jon dan mbak Sara bareng-bareng melototin akikah sampai salah tingkah 😀 :D).

Me: Eh e a.. jahat banget ya. Mungkin karena mereka nggak biasa lihat kalian. Pernah nggak waktu jalan-jalan ada yang minta foto?

Mas Jon: Ya pernah sih.

Me: Nah, itu, berarti memang kalian populer (duh, malu gue, pengen ndlesep ke dalam bumi seketika).

Mas Jon: tadi juga, waktu beli makan, ih nggak sopan banget. Apa kayak gitu orang Indo klo ke bule? Aku tanya baik-baik pake bahasa Indonesia, Mbak klo mau antri mulainya darimana? Si mbaknya itu malah melototin nggak jelas terus narik temennya ke depan dia. Itu kan nggak sopan banget. Mungkin tadi klo aku belinya bareng kamu beda kali perlakuannya.

Me: Hmmm… dia nggak bisa pake bahasa Inggris kali. Tapi kan kamu tadi ngomong pake Bahasa Indonesia ya? Jadi maksudnya kamu disuruh ngomong sama orang yang dia tarik tadi?

Mas Jon: Iya.

Me: Waduh, kok gitu (semakin ndlesep)

Mas Jon: Itu mending ya. Kadang itu ada yang teriak2 Mister-mister! Padahal dia udah gede. Klo anak kecil sih nggak papa. Lha ini udah dewasa lho.

Me: Waduh, sabar yaa… (uwaaaaaaaaaaaaaa….. serangan verbal tingkat dewa. Malu deh. Plis himbauan bagi para penggemar bule di luar sana, bule juga manusia, jangan anggap dewa, mereka nganggep kalian freak bukannya kagum. Meski kalian justru ngerasa beruntung banget bisa lihat bule. Etapi plis deh, ini bukan jaman koloniaaaalll >.<).

EF's Got Talent, The Park Solo Baru

EF’s Got Talent, The Park Solo Baru

Huft, gini nih udah lama nggak ngeblog. Serangan ide udah kayak peluru senapan si Rambo. Buanyuuaaaakkkk sampe bingung nulisnya. Padahal kocak-kocaknya pemilu tahun ini juga belum diliput, suka-sukanya main di CFD belum terurai, suka citanya dapet nilai TOEFL lumayan… eemmm… rempongnya hip hip horenya ngurus wisudaan bareng temen, undangan nikah yang bertubi….. (fading….)

Okelah, sampai di sini dulu. InsyaAllah ini post paling random yang pernah saya buat.

Sekian dan terima kasih :D.

Advertisements

Mari berdiskusi... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s