My Family (A Series of Comedy of My Life)

HI EVERYONE, I MAKE A GRANDIOSE COME-BACK!

Semua postingan-postingan ini saya dedikasikan kepada para penggemar saya yang setia, para stalker, dan para-para yang lain… Teman? Oh iya, teman yang sering baca dan memberi penyemangat agar saya rajin nulis di blog.

Untuk sekali lagi membangkitkan semangat saya menulis blog, kali ini akan saya tuliskan lagi kejadian-kejadian random yang terjadi disekitar saya. Kali ini tentang keluarga. *hug satu2*

Dan sebaiknya, deskripsi ini dimulai dari yang paling tua yaitu simbah saya. 

Simbah namanya Mbah Wiji. TTL? Suka-suka kita aja lah. Kadang ditulis Januari, kadang Februari, kadang Agustus, tergantung tanggal dan bulan apa simbah memperpanjang masa berlaku KTP beliau. Dan dari kesemua itu kayaknya nggak ada yang bener sama sekali. Hanya tahun lahir beliau saja yang konsisten: 1939, meski sekali lagi, para stalkerku yang budiman, info ini rawan hoax, bihihik. Yup, simbah nggak punya akte lahir.Yasudah, kita bahas yang ada-ada saja yah.

Simbah punya nama beken: Mbah Upri soko Banyuripan. Ungg.. nggak sepanjang itu sih. Pokoknya, klo misal nih para penggemar sempat main ke tlatah desa ***** (censored), Kabupaten Wonogiri, nyari yang namanya Mbah Wiji itu susah. Jarang yang kenal nama itu. Carilah beliau dengan nama beken beliau: Mbah Upri. Mbah Upri yang mana? Yang rumahnya Banyuripan. Dari investigasi yang sudah saya coba buat, saya menyimpulkan (hipotesis yang dijadikan kesimpulan, bukan sikap ilmiah sama sekali :p ), Upri berasal dari nama anak simbah yang tertua: Supriyadi, alias Pakdhe Supri (mungkin tidak akan dibahas di sini karena saya bisa kehabisan mood booster sewaktu-waktu :p ). Biar imut sedikit ‘s’ nya dihilangkan, jadi Mbah Upri. Boleh? Boleh lah. Lha itu, temen sekelas jaman kuliah yang cuantiknya kayak Sandra Dewi juga gitu, aslinya namanya Suci, biar imut dipanggil Uci (Maaf ya, Uch *hug*. Kamu boleh nebeng tenar di blog gue, #ehh).

Simbah punya hobi: muter-muter. Pokoknya bergerak. Nyapu halaman rumah dan kebon yang segede lapangan bola sudah biasa beliau lakoni sejak…. ummm.. sejak saya mampu mengingat. Dan kalau udah bersih itu halaman dan kebon, beliau pindah ke jalan. Iya, jalan, jalan raya gitu disapu. Simbah memang keyen! Selain itu, ada hobi lain yang ngangeni banget dari simbah yaitu ngasih srampat baru ke sandal Swallow kami yang sudah pada jebat. Srampat nggak tau? Tar DM yah di twitter :D. Dan hobi ini menghasilkan banyak sandal ala Joger nangkring di teras rumah. Kiri kanan beda warnanya, gurls! Sampai tali srampatnya juga!  Dan sepertinya kebiasaan menggunakan barang sampai sejebat-jebatnya ini nurun juga sama saya. Hahaa, duh, :D.

Ohya, simbah ini cucunya banyak. Sejauh ini sudah ada 13 cucu dan 5 orang cicit. Saking banyaknya cucu, simbah suka lupa nama-nama cucunya. Contoh nih, manggil Nia, cucu dari anak ke 4 beliau, harus selalu melewati nama cucu lain yang lebih tua, sampai akhirnya ketemu nama Nia: Nu, Ni, Nia. Dan lebih lucu lagi ke adek, lebih rumit lagi prosesnya, Nu, Ni, Nu, Tan. hihihi

Simbah suka banget nyimpen makanan. Klo saya atau adek pulang sekolah, sering banget dikasih makan. Masalahnya, kadang lupa nyimpen makan sampai berhari-hari. Sayang banget, kan? Nah, belajar dari itu, saya dan adek sering inspeksi ke jendela deket singgasana simbah (tempat beliau biasa duduk terkantuk-kantuk, red) dan di laci dapur tempat nyimpen ikan asing buat kucing. Klo sudah ketemu, kita ingatkan simbah dan minta komisi karena sudah menyelamatkan sebuah makanan dari kebusukan. Duh -__-‘. Makanan yang sering beliau simpan adalah ampyang. Meski cuma sebulat ampyang, kami bertiga (saya, simbah, adek) memakannya sambil membahas berapa banyak kacang yang kami miliki dari secuil ampyang yang kami makan. Entah kenapa, makanan yang jumlahnya sedikit dan dimakan oleh orang banyak itu enaaaaaaaakkk banget 😀 :D. Dan simbah juga lah yang menanamkan kebiasaan bakar jahe untuk dibuat wedang jahe, beli permen Davos yang katanya pedesnya naudzubillah, dan minum teh ginasthel tiap pagi. She taught me about taste! Rasa dan selera yang kata temen2 dianggap sebagai selera simbah-simbah -_-.

Simbah sekarang sakit. Sudah hampir setahun terbaring di tempat tidur. Cepet sembuh ya, Mbah. *hug*

Lanjut ke Bapak. Bapak orangnya humoris idealis. Sering melucu sampai jangkrik terkikik-kikik. Umm.. maaf ya, Beh. Lucu koks. :*. Sering Bapak dan kami dua anak gadisnya berdebat mengenai sesuatu. Setidaknya kami memiliki prinsip dan idealisme yang sama. Bapak ini humoris pada tingkah lakunya, yang sepertinya nurun juga ke kami anak-anaknya. Sebagaimana salah satu kejadian konyol yang sempat trending di facebook saya beberapa tahun lalu (cek facebook ya, Stalker lol).

Bapak hendak ke kota Kecamatan.

Adek: Pak, titip urek ya?

Bapak: Yo.

Beberapa jenak kemudian, Bapak pulang.

Bapak: (melempar seonggok cotton bud). Nyo.

Adek: Pak, urek petelot. Udu urek kuping.

Me: (gulung-gulung di lantai)

JSYK, ini masalah register saja. Urek dikenal oleh siswa di daerah kami sebagai ongkotan, rautan pensil. Sementara, orang dewasa yang sudah nggak jaman lagi nulis pake pensil, urek mengacu pada urek kuping alias korek telinga atau nama kerennya cotton bud. Dan peristiwa-peristiwa lain yang serupa.

Bapakku yang pintar dan pekerja keras, sebenarnya malah mewek lho klo ingat perjuanganmu menyekolahkanku sampai sarjana. Bapak emang orang yang paling so sweet. Jadi, cerita kita biar kita saja yang tahu yah, *hug*.

Mommy. Ibu saya galak. Semua anak-anak di lingkungan nggak ada yang bandel kalo ibu ada. Semua kata-kata beliau bagaikan hukum: bener semua, dan emang bener banget. o.O. Nggak ada yang bisa menang klo berdebat sama Ibu. Ibuku memang juara debat. Logis, taktis, dan sadis #eh.. Tatapan matanya bikin merinding. :D. Meski begitu, Ibu adalah orang yang paham akoh banget. Paham tentang kealayan dan keautisanku. Masakannya juara di seluruh dunia. Pintar menjahit, (pernah) hobi bikin prakarya, dan cantik. Sewaktu SMA, ada rahasia kecil yang saya simpan dari beliau selama beberapa tahun. Akhirnya setelah lulus SMA, saya rasa sudah waktunya menyampaikan cerita itu kepada beliau.

Me: Biyen ki to, pas jaman jipuk rapot kelas 1 SMA biyen, Pak Wali Kelas ki mosok takon ngene: ‘Nia, kok ibumu luwih ayu timbang koe?’

Me: ……………(speechless, saya yang masih 15 tahun, masih belia, dan masih kinclong tanpa kerutan, kalah oleh ibu-ibu 38 tahun dengan 2 anak)

Pak Guru lain yang kebetulan hadir: Yo si Nia iki kan isih cilik to, Pak….

Me: (Trimo mlipir, siyok)

Rasa gengsi menahan cerita ini sampai bertahun-tahun di kepalaku.

Reaksi Ibu dapat ditebak. Ibu tertawa terbahak-bahak dan sesekali memberikan pembenaran atas apa yang diucapkan Pak Wali Kelas dulu itu. Yasudah lah. Yang penting Ibu bahagia. lol.

Ibu mirip sama Bapak. Eh, sama saya juga sih. Dari segi muka dan kulit, saya mirip Ibu. Ngaku-ngaku lah, kan Ibuku cantik. :p. Dan Ibu juga kadang melontarkan humor yang sejenis dengan Bapak.

Suatu ketika.

Me: Kae pite bar takserviske. Jare busine rusak. Kudu diganti.

Mum: Busi ngopo dadak diganti? Biasane ki gur reget koyo metu anguse kae. Diresiki tok kudune iso rasah ganti.

Me: (kagum juga Mummy paham permotoran) Tapi yo rapopo lah. Isih garansi kok. Ra bayar. Ora ngonoo, busi ki sing rupane koyo opo to?

Mum: Busi ki lak sing neng ban kae to?

Me: (Case closed).

Ibu: the most staightforward, smart, beautiful, and wonderful. She is the one who truly understands me. >.<

Adek. Perhitungan. Ngeyel. Musuh di kala dekat. Ngangeni di kala jauh. Sekarang dia sudah duduk di bangku SMA. Di SMA paling prestigious di Wonogiri, #tsaah. Almamater saiiia ;p. Dia adalah salah satu dari segelintir orang-orang beruntung yang paham humor jangkrik saya. Satu hal yang terkadang dia praktekkan pada teman-temannya dan membunyikan jangkrik juga. Seperti:

Adek: Mbak, wingi to, kan do ngobrol. Lucu ngono. Terus aku ngomong ‘Ya Allah, maafin Baim, Ya Allah’. Terus ki ora enek sing ngguyu.

Me: hahahah.. kudune koe survey pasar sek. Kanca-kancamu sok nonton sitkom ora? 

Adek: Ora i too, do nontoni GGS karo Kau yang Berasal dari Bintang kae.

Me: hahhaha.. duh.. puk puk yah.. 😀 😀 😀

Kata Ibu, kalau kami disatukan, gemontang satu rumah. Ruamuee banget. Dan kata Ibu, ketika kemaren Pakdhe yang dari Padang datang, beliau akhirnya bisa bangga menceritakan: Saiki wes ora pati gelut. Noke yo kui, ngguyu wae mbuh sing diguyu opo. Hahaha,, mommy, you dont need to know. 😀

Dan salah satu kebiasaan kecil yang bikin kangen adalah ‘Ritual Makan Permen Relaxa’. Waktu kami masih sama-sama kecil, kami suka rebutan macam-macam, termasuk sekeping permen. Dan solusinya adalah: membanting satu plastik kecil permen tersebut keras-keras di lantai sampai hancur, dan kami makan dengan rukun (dan sedikit sikut-sikutan tentunya :D) dari seplastik mungil tersebut. Hal yang lebaran kemarin kami bincangkan secara dewasa di atas motor saat kami diutus belanja ke pasar kecamatan yang agak jauh (10km away).

Me: Biyen kae awake dewe ngopo to senengange mbantingi permen gek rebutan?

Adek: Kae aku diwarahi karo Robby yo, Mbak (Robby, anak tetangga, seumuran sama adekku).

Me: hahaha,, padahal misal due permen luih soko loro yo tetep dibantingi gek dinggo rebutan. Awake dewe ketoke luih seneng sikut-sikutan rebutan daripada mangan permene.

Adek: hahaha, hooh koyoke.

Me & adek: *mendadak wise*

Masa-masa dimana sikut-sikutan, kitik-kitikan, rebutan remot TV, sampai membanting permen Relaxa adalah masa-masa yang lumayan indah juga ternyata. Hal yang sekarang sering kami tertawakan bersama saat kami berdiang di depan tungku kayu tiap pagi. Rebutan siapa yang harus cuci piring, menanak nasi, dan membuat teh untuk sekeluarga, rebutan siapa yang harus menyapu halaman dan menyapu rumah. Ummm… bukan rebutan sih sebenarnya, lebih pada pendelegasian. 😀 :D. Dan Ibu sudah tidak ambil pusing lagi atas perdebatan kami. Yang penting tidak bertengkar dan kerjaan beres karena kami berdiskusi dulu menentukan job desk tiap pagi. 😀 😀

Adek sudah besar. Sudah bisa diajak tukar-tukar baju klo misal pulang ada kendurian dan harus wajib banget buat nggak terlihat memakai pakaian yang sama di dua kesempatan. We are SISTERS! 😀

Dan atas keparanoidan yang aneh bahwa jika saya memasang foto close up keluarga saya, keluarga saya bisa di-track down dan segala macam karena dunia sedang rawan perang Dunia Ke Tiga, akhirnya saya putuskan untuk hanya memposting foto ini untuk para pembaca sekalian. Yang masih betah membaca sampai sekarang. This is my family. And I love them! 🙂

My Family

My Family

Advertisements

2 thoughts on “My Family (A Series of Comedy of My Life)

  1. rasanya udah lama bgt ga ngerasain kehangatan keluarga macam itu. sederhana, tapi bahagia :””)
    btw mba nia sama adeknya mirip banget.

    • Eh ada naris,, hihii
      Iya nih.. baru jg bbrp hari merantau di Jakarta udah kangen keluarga…
      gimana yg udah bertahun2 nih 😉
      semoga keluarga kita selalu sehat dan ceria selalu ya.. aamiin 🙂

Mari berdiskusi... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s