LDM

Tentang LDM (Long Distance Marriage)

Baru beberapa hari yang lalu masih woles bisa nulis secara tabah bahwa: kami berpisah sejauh ratusan kilometer dan kami baik-baik saja. Itu saat dimana kami belum menyadari bahwa rasa rindu itu bukannya dirasakan per hari macam sakit perut yang hari ini kerasa besoknya sudah sembuh. Sakit rindu alias malarindu itu berakumulasi, keesokan harinya bukannya jadi sembuh tapi malah makin akut. Kami menyadari itu 5 hari kemudian, dengan terburu-buru mengecek tiket kereta untuk akhir minggu ini dan tralala: habis, dek. Sudah masuk masa libur natal soalnya. Duh. Gigit jari T.T. Maka, percakapan pun menjadi seperti ini:

T: Yaudah, nggak apa-apa. Ini kan sudah pilihan kita (atau aku maksudnya hiks. Dianya aja yang terlalu baik utk ikut mengakui bahwa ide menyiksa ini adalah ide kami) klo kamu ngabisin kontrak dulu di Solo. Jadi ya yang sabar ya.

N: *nyesek* *jedotin kepala ke bantal*

Dan hari pun berlalu dengan namanya yang selalu bertengger di posisi teratas Chart Chatting Whatsapp (di pagi dan malam hari). Kadang kalau siang, namanya bisa turun ke posisi paling bontot karena sibuk dengan kerjaan. Yah, memang klo pengen suami yang bisa bales Whatsapp/sms setiap waktu sih jangan cari yang punya kerjaan. Pengangguran tu bisa bales Whatsapp/sms dan telp setiap saat semau kita. *tabah*

Makanya sebaiknya cari kesibukan juga. Seperti dengan nulis di blog atau selesaikan itu koreksian tugas siswa. Aaaakkk…. *koreksian hanya mitos*

Hari ini adalah 16 hari usia pernikahan kami. Dan akhirnya sebagai pasutri kami pun merasakan susahnya buat nggak ‘ngumbar kemesraan’ di muka publik. Hal-hal yang dulu kami tertawakan bersama dan betapa kami dulu tidak mengerti mengapa topik ‘sarapan pagi bersama suami/istri’ itu harus dijadikan status di Facebook. Mengapa foto ‘lagi jalan bareng sama suami/istri, nih’ itu wajib banget diupdate di BBM. Mengapa pujian-pujian ‘wah, suami/istriku perhatian banget. Pagi-pagi gini dah dibikinin kopi. I love you, Sayang’ dan masih banyak lagi adalah hal yang sering dibagikan di social media, setiap hari, apalagi buat penganten yang masih seger-segernya (macam kami). Kami yang dulunya sudah mengutuk perbuatan macam itu pun menyadari susahnya untuk tidak melakukan hal serupa. We have to restrain not to overexpose our activities and feelings to the society. Because those are ours, not theirs issues to take care of. Our marriage is not to impress the society. 

Dan akhirnya hal paling pol yang bisa kami lakukan hanyalah post beberapa foto nikahan, ganti Profile Picture akun social media kami. Dan kadang curi-curi momen untuk nge-tag nama satu sama lain. Setidaknya kami tidak terjerumus untuk mengatakan pada jamaah Facebook ‘ Ini kali kedua dalam satu minggu kami mampir ke warung mie ayam yang katanya paling enak se-Wonogiri ini. Memang mie ayamnya yang enak atau karena makannya sama kamu makanya jadi enak?’ *nyuri kesempatan buat update status beginian >.< *

Sedari awal kami hanyalah sahabat virtual yang disatukan dalam lingkup rangkaian kata (duileeeh 😀 ). Tak sempat pernah pacaran dan tak pernah jalan bareng, baik bareng berdua saja maupun bareng teman-teman lain. Persahabatan kami bersifat personal. Situ punya episode One Piece yang Marineford? Trade yuk sama punyaku yang Sky Island. Eh, menurutmu apa yang terjadi sama Sabo? Kayaknya dia masuk ke Revolutionary Army, deh. Markas Flying Fish Gang itu inspirasinya dari rumah tradisional Nias, loh. Tau nggak? Dan begitu saja. Tak pernah berharap lebih.

Makanya ketika satu minggu jatah cuti kami habis rasanya masih ingin ‘mbandang’ buat bolos. Satu-satunya objek wisata yang sempat kami kunjungi hanya Waduk Gajah Mungkur Wonogiri yang sedang surut sampai kami bisa jalan-jalan ke lahan yang seharusnya tergenang air. Eh, kami sempat jalan ke Grand Mall bareng deng buat beli perlengkapan mendaki gunung (dalam durasi 1.5 jam saja). Ohya, kami sempat nonton Mockingjay bareng di The Park meski waktunya curi-curi banget. Itu adalah kali kedua saya nonton film di bioskop seumur hidup. Dan terlupa untuk mengabadikan dengan foto berdua karena memang agenda yang sempat-nggak-sempat-harus-disempatkan. Lalu saat sudah berpisah dan kangen: yah mana fotonyaaaaaaa???? Btw, jalan-jalannya segitu masih kurang banget kaaan? :matabelo

Saat bersama, waktu satu detik itu sangatlah berharga. Makanya, tanpa sadar kami pun mengkonversi satuan waktu kami menjadi detik. Bukan lagi 16 hari namun menjadi 1.382.400 detik lagi. Membayangkan angkanya saja sudah lelah. Namun, mau tak mau ya tetap dijalani. Kami terlalu meremehkan penyakit malarindu yang melanda pasangan LDM. Dari sini akhirnya kerasa juga klo saya (dan mungkin dia juga :p) terjebak pada situasi yang disampaikan oleh Jorge Luis Borges, “Being with you and not being with you is the only way I have to measure time.” (sebatas mengutip quote yang sempat bikin salah seorang kawan terombang-ambing 😀 )

Aku di sini dan kau di sana, kita memandang langit yang sama. Jauh di mata namun dekat di hatiiiii… lagu kebangsaan para pasangan LDR dan tentunya LDM ini harus dan wajib banget diputar kala membutuhkan puk-puk mengingat separuh nafas yang berada nan jauh di sana. *nunduk*

Survival Game ‘Sendiri Tanpamu’ Day Six:

Damage level: Severe.

*jadikan sistematika postingan ini kacau sekacau-kacaunya* I miss you so bad, Sweetheart. T.T

Advertisements

2 thoughts on “LDM

  1. Jadi terbayang sedih dan kangennya Mbak Penulis ketika saya baca tulisan ini. Saya yang belum menikah dan sedang menjalani LDR selama 4 bulan (masih harus melewati 8 bulan lagi buat ketemu) rasanya kangen terus. Apalagi kalau sudah suami-istri yaa, huhuhu..

    • ini cuma nahan2 buat nggak ketemu 3 minggu kok Mb Aisha.. hehe… tp curhatnya dah panjang gini :p ..waahh.. lamanyaaaa masih harus nunggu 8 bulan hiks…jauh bgt ini pasti ya LDR nya… semangaat ya mb aisha 🙂 🙂

Mari berdiskusi... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s