Trilogi Liburan Akhir Tahun 2014 ~ Bagian I: Kawah Ijen :D

Liburan ini memang sudah direncanakan sejak lama. Kalau tidak salah setelah lamaran, mas calon suami sudah mendaftarkan saya untuk ikut dalam kegiatan jalan-jalan teman-temannya yang tergabung dalam Javenture (entah apa maknanya saya hanya bisa menerka-nerka 😀 ). Dan akhirnya, tanggal 25 Desember 2014 pun tiba! Kawah Ijen, Taman Nasional Baluran, Surabaya: I’m coming!!!

Rombongan terbagi dalam 3 kloter pemberangkatan. 16 orang berangkat dari Stasiun Pasar Senen pada tanggal 24 malam. 2 orang (saya dan Mbak Riris) menunggu untuk naik kereta yang sama di Stasiun Purwosari Solo. Lalu satu orang lagi naik dari Stasiun Gubeng Surabaya. Ohya, dan tanggal 25 Desember itu adalah kali pertama ketemu suami setelah 1.814.400 detik tidak bertemu :p . Tadinya sih membayangkan adegan-adegan film India, yang pakai slow motion segala. Tapi ternyata setelah bertemu, “Nah, itu dia,” dan hanya begitu saja. Kangen sih, tapi memang nggak sempat beralay-alay di stasiun karena bisa berakibat fatal: ketinggalan kereta! :p .

Kereta Sri Tanjung membawa kami dalam 13 jam perjalanan menuju Stasiun Karangasem (atau atau 21 jam untuk teman-teman Javenture yang berangkat dari Jakarta). Lelahnya perjalanan tak terlalu terasa karena kami ber-19 memainkan berbagai macam permainan selama perjalanan; mulai dari permainan kartu remi, UNO, sampai permainan Yakuza. Meski hari itu adalah pertama kali saya bertemu mereka, namun berkat permainan-permainan itu, kami semua jadi langsung akrab. 🙂

Playing UNO together!

Playing UNO together!

Kami tiba di Stasiun Karangasem pukul 20.30. Keluar dari stasiun, kami sudah ditunggu mobil yang akan membawa kami ke lokasi-lokasi tujuan kami selama perjalanan kami di Banyuwangi. Sebelum naik ke Paltuding, kami mampir ke pom bensin terlebih dahulu untuk sholat dan membersihkan diri. Perjalanan yang terlalu lama membuat kami semua ingin mandi sehingga waktu pun sedikit molor dari yang sudah terjadwalkan. Sementara menunggu semua teman selesai mandi, kami pun masih sempat untuk ber-groufie ria 😀 .

1.edit

Setelah itu, kami pun makan malam di sebuah restoran di pinggiran pantai Banyuwangi. Namun, entah kenapa penyajiannya memakan waktu terlalu lama. Enak sih makanannya, tapi lama 😦 . Pukul 11.40 kami semua baru selesai makan. Dian, ketua dari perjalanan ini pun mewanti-wanti untuk nanti selama perjalanan dua jam menuju Paltuding (titik awal pendakian) kami semua harus istirahat yang cukup dan lekas tidur. Karena sebelumnya kami sudah merencanakan untuk tiba di Paltuding pukul 12.00 sehingga ada waktu istirahat selama dua jam  dan mulai mendaki pukul 2.00 (setidaknya, ini rencana awalnya 😀 ).

Kami tiba di Paltuding pukul 1.30. Kami terbangun mendapati kaca mobil yang berkabut karena suhu di dalam mobil (yang sudah ber-AC!) lebih hangat daripada suhu di luar. Dan benar saja, begitu kami keluar dari mobil, suhu turun drastis! Saya langsung mencari sarung tangan dan syal di tas ransel. Sementara teman-teman ada yang mulai membagikan madu untuk menambah stamina. Setelah briefing pendek dari pemandu, kami pun berangkat. Hanya beberapa dari kami (yang kekar dan kuat…. dan cowok o.O ) yang membawa tas ransel yang diisi dengan (terutama) cadangan air minum untuk kami ber-19. Horeee… nggak bawa ransel! Dan hanya 3 km saja, tidak jauh. Gunung Ijen juga tidak setinggi Gunung Lawu, hanya 2443 m saja. Lalala… perasaan over-PD itu sebelum saya bertemu dengan medan pendakiannya :p .

briefing sebelum pendakian bersama pemandu

Pendakian di awal tidak terasa berat karena jalanan yang masih relatif datar. Beberapa dari kami masih sempat bernyanyi dan bercanda untuk mengusir rasa dingin dan sesekali menjahili teman yang berjalan di dekatnya. Bau belerang samar-samar juga mulai tercium. Setelah beberapa saat, trek mulai beranjak naik dan terkadang kami harus melewati tanjakan tajam. Selain itu, kami pun harus berhati-hati dalam melangkah karena jalanan yang berpasir dan bisa membuat kami terpeleset jika tidak berhati-hati. Trek pendakian sangat ramai pada waktu itu. Mungkin karena bertepatan dengan libur Natal. Tak hanya kaum muda saja yang mendaki. Beberapa kali kami bertemu dengan ibu-ibu atau bapak-bapak paruh baya bahkan anak kecil dan tidak digendong! Selain itu, pendaki bukan hanya berasal dari Indonesia saja. Banyak pula wisatawan mancanegara yang turut pula mendaki Kawah Ijen ini. Dan hebatnya para wisatawan asing ini: mereka kebanyakan tidak memakai jaket! Hanya celana pendek atau memakai atasan pendek saja sementara kami yang penduduk lokal harus lengkap menutupi setiap inchi kulit kami dan bahkan hanya menyisakan sedikit ruang untuk mata karena kami juga memakai masker untuk menahan bau belerang. Semakin lama kami mendaki, di kiri kanan trek, mulai kami dapati beberapa orang yang duduk beristirahat sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Saya yang biasanya percaya diri akan kemampuan fisik saya (yang kebiasaan dari sono-nya tomboy), mulai goyah juga. Padahal tanpa ransel!!!! T.T .  Dan akhirnya minta istirahat padahal belum separuh perjalanan -_- #sigh. Jalanan berpasir dengan kemiringan rata-rata 25 s.d. 35 derajat sangat menyulitkan saya sebagai pendaki pemula (baru sekali ini mendaki >.< ). Padahal di trekking normal (macam kos-kampus bolak-balik yang kalau dihitung bisa 4km) saya tidak kelelahan sama sekali 😦 . Saya pun mulai curiga kalau sebenarnya trekking ini bukan 3km tapi 10km #eh. Mungkin karena medannya terus menanjak jadi rasa lelahnya berbeda. Yah, namanya juga pendakian *minta ditoyor* :p

Setelah 1.5 km perjalanan, sampailah kami di Pos Bunder. Saat itu Pos Bunder sangat ramai oleh para pendaki, sampai-sampai untuk duduk saja kami harus berdesak-desakan. Kami pun istirahat sebentar dan memastikan tidak ada satu pun anggota rombongan yang ketinggalan.

Setelah istirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan kembali. Dan akhirnya, badan lembek tak terlatihku pun minta istirahat lebih sering dari sebelumnya. Pertama kali mendaki dan langsung berjalan sejauh 3 km, oksigen yang semakin menipis ditambah dengan bau belerang yang semakin menyengat membuat napas ngos-ngosan. Untungnya mas suami dengan sabar menuntun saya berjalan dan menemani saya berhenti saat napas saya mulai payah. Salah satu pemandu (Pak Sam) pun tetap dengan sabar menunggui kami dan memastikan kami tidak tertinggal. Rasanya menyesal tidak berolahraga dengan benar sebelum pendakian. 😦

beristirahat sejenak sebelum menuju puncak!

beristirahat sejenak sebelum menuju puncak!

Pukul 4.00 pagi kami sampai di bibir kawah. Sebagian dari rekan-rekan Javenture malah sudah mulai menapaki jalanan turun ke Kawah Ijen yang terjal demi bisa menikmati pemandangan blue fire yang sangat terkenal itu. Blue fire tidak nampak dari bibir kawah karena kabut yang terlalu tebal. Saya pun menyusul teman-teman yang sudah mendahului untuk turun bersama mas suami dan Pak Sam sampai akhirnya setelah 80% hampir sampai di dasar kawah, saya menyerah karena tidak tahan dengan asap belerang. Ternyata kabut tadi bukan sembarang kabut melainkan kepulan asap belerang *meh* -_-. Namun, blue fire sudah nampak dari tempat kami berhenti sehingga kami bisa duduk-duduk sambil menikmatinya dari kejauhan.

The Blue Fire!

The Blue Fire!

Beberapa kali selama pendakian kami berjumpa dengan para penambang belerang. Mereka memikul dua keranjang belerang yang beratnya bisa mencapai 70-100 kg. Per satu kilogram belerang dihargai Rp 900,00. Sempat terlihat bahu mereka ada yang sedikit cekung karena setiap hari digunakan untuk mengangkut belerang melewati trek yang sama yang membuat saya kewalahan. Apalagi musim liburan membuat trek ramai para pendaki yang tentunya semakin menyulitkan bapak-bapak ini untuk mengangkut belerang karena harus berhati-hati agar keranjangnya tak mengenai orang. Tak terbayangkan betapa lelahnya mereka bekerja setiap hari mengangkut beban seberat itu. Berdasarkan keterangan Pak Sam yang juga mantan penambang belerang, mereka bisa bolak-balik dari dasar kawah mengangkut belerang ke Paltuding dua kali sehari. Maaak… dua kaliii!!! Dengan 70-100kg belerang?? Mendaki tanpa ransel aja udah remuk redam begini, bapak-bapak itu gimana rasanya? Dan tiap hari?? Dua kali??

penambang belerang o.O

penambang belerang o.O

Pukul 5.00 saya dan mas suami yang hanya separuh perjalanan ke dasar kawah kembali mendaki menuju bibir kawah untuk sholat subuh. Sempat terjadi drama dimana saya sesak napas karena kepulan asap belerang yang menjadi-jadi sampai saya hampir tidak bisa bernapas. Saat itu saya menyadari bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dilaksanakan hanya dengan modal optimis saja. Latihan fisik dan olahraga cukup memang benar-benar sangat diperlukan bukan hanya untuk pendakian tapi untuk ketahanan tubuh. Saya sempat menangis karena rasanya seperti saat belajar berenang dan tenggelam dulu: tidak ada udara yang bisa untuk dihirup. Dimana-mana asap belerang. Masker dirasa hampir tak berguna karena sudah bau belerang. Mas suami menyemangati saya bahwa kami tinggal sedikit lagi sampai ke bibir kawah meski saya tahu bahwa kami masih ada di pertengahan jalan dan bibir kawah masih jauh sekali. OMG, manja sekali badan ini. Benar-benar lembek tak terlatih T.T. Sempat terpikirkan teman-teman yang masih berada di dasar kawah, saya yang di tengah saja begini bagaimana mereka? Namun, ternyata (eh alhamdulillah maksudnya :p), mereka juga sampai di bibir kawah dengan tertawa-tawa bahagia sambil membawa oleh-oleh foto bersama blue fire dan penambang belerang lengkap dengan belerang yang belum ditambang. Ihhhh… kok bisa siiihhh… T.T.

Istirahat sejenak sebelum kembali ke Paltuding

Istirahat sejenak sebelum kembali ke Paltuding

Di bibir kawah, kami bertemu dengan Mbak Lina yang ternyata tidak ikut turun. Dia lebih memilih memotret pemandangan sambil menunggu penampakan danau berwarna toska di dasar kawah. Dan benar saja, beberapa waktu kemudian, danau cantik berwarna toska muncul out of the blue! Mungkin kepulan asap belerang dan kabut menghalanginya dari pandangan kami sewaktu dini hari. Setelah matahari mulai bersinar cerah, danau itu pun menampakkan keindahannya. 😀

Namun, ada saja hal yang tidak mengenakkan di setiap tempat wisata yang mulai ramai di Indonesia ini: kebiasaan meninggalkan sampah. Setelah matahari mulai naik dan menyinari keindahan danau toska, tampak pula botol-botol minuman bekas dan juga plastik-plastik sampah yang dibuang begitu saja oleh pendaki yang tidak bertanggung jawab. Apalagi, di Kawah Ijen ini tidak ada petugas kebersihan yang menyapu kawah. Yakali menyapu kawah -_- . Adalah kewajiban kita untuk menjaga keasrian dan keindahan tempat wisata yang telah kita kunjungi dengan membuang sampah pada tempatnya. Bila tidak ditemukan tong sampah, maka pendaki harus sedia selalu wadah penampung sementara sampai menemukan tempat sampah yang sudah disediakan pengelola. Karena dengan menjaga kelestariannya berarti kita memberikan kesempatan kepada anak cucu kita nanti untuk bisa menikmati keindahan tempat wisata yang belum tercemar dengan sampah. *bijak :p

Danau Toska!

Danau Toska!

salah satu pemandangan menakjubkan di puncak Ijen

salah satu pemandangan menakjubkan di puncak Ijen

Setelah berfoto-foto bersama, kami pun kembali turun ke Paltuding. Ternyata perjalanan turun sama lelahnya dengan sewaktu mendaki karena kaki harus menahan berat badan yang terhentak ke bawah. Namun, meskipun lelah kami sangat senang telah mengunjungi salah satu wisata alam yang menakjubkan ini.

a breath-taking view <3

a breath-taking view ❤

kembali ke Paltuding

turun kembali ke Paltuding

wisatawan mancanegara dan anak-anak! o.O

wisatawan mancanegara dan anak-anak perkasa! o.O

Semakin siang, nampak bahwa pepohonan di sekitar trek pendakian terlihat hitam terbakar. Ternyata, beberapa bulan yang lalu telah terjadi kebakaran hutan di sekitar Kawah Ijen ini. Kebakaran kemungkinan terjadi karena gesekan ranting pohon di musim kemarau. Meskipun begitu, pemandangannya tetaplah indah 🙂 .

Kami sampai di Paltuding pukul 8.00 pagi. Setelah semuanya berkumpul, kami melanjutkan perjalanan menuju Taman Nasional Baluran dan Pantai Bama. 🙂

~to be continued 

P.s.

Thanks to Dian, Anom, dan Fian: pinjam foto-fotonya yak. Dikit kok. hehe :p

Advertisements

Mari berdiskusi... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s