Trilogi Liburan Akhir Tahun 2014 ~ Bagian III: Surabaya-Madura

Tibalah di bagian terakhir dari perjalanan panjang ini. Sebenarnya sih tidak lama, hanya beberapa kabupaten dijelajahi selama 3 hari 😀 dipadetin banget. Kereta Mutiara Timur Malam membawa kami selama 6 jam dari Stasiun Rogojampi menuju Stasiun Gubeng, Surabaya. Dua dari rombongan tetap tinggal di Surabaya, 12 kembali ke rumah masing-masing yang berada di kisaran Solo-Jogja dengan menaiki Kereta Pasundan, dan 5 lainnya (termasuk saya dan suami) masih melanjutkan misi menaklukan Surabaya dalam 12 jam! 😀

Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah Museum Kapal Selam. Saat Dian menyatakan ide untuk mengunjungi Museum Kapal Selam hal yang pertama kali melintas di kepala saya adalah episode dimana Spongebob dan Ny. Puff mengunjungi Museum Kapal Bikini Bottom (abaikan -_- ) dan membuat saya senyum-senyum aneh sepanjang jalan. Ternyata lokasinya sangat dekat dengan Stasiun Gubeng. Hanya sedikit ke kiri lalu belok kanan (daripada saya bilang barat tapi ternyata bukan :p ). Di sana kami sempat bertemu dengan Eko dan Naris yang juga menyempatkan diri untuk berkunjung sebelum naik Pasundan pukul 9.00. Padahal tadi kami sudah saling mengucap sampai jumpa :v .

Nama lengkapnya ternyata adalah Monumen Kapal Selam! Monumen dan ada kapal selamnya besar banget 😀 . Jika hendak melihat-lihat kapal selam saja, tidak dipungut biaya. Namun, jika sekalian ingin menonton film tentang kapal selam Indonesia, pengunjung dikenakan biaya Rp 8.000 per orang. Kami berlima memilih untuk sekalian menonton film tersebut.

Monumen Kapal Selam, Surabaya

Monumen Kapal Selam, Surabaya

Yang unik dari monumen ini adalah monumen ini sebenarnya kapal selam sungguhan yang sudah pernah dipakai berperang oleh tentara Indonesia. Kapal Selam ini bernama KRI Pasopati 410 yang merupakan salah satu Armada Angkatan Laut RI buatan Uni Soviet tahun 1952. Kapal selam ini pernah dilibatkan dalam Pertempuran Laut Aru untuk membebaskan Irian Barat dari pendudukan Belanda. Kapal Selam ini dibawa ke Jalan Pemuda tempatnya berdiri sekarang dengan cara dipreteli bagian-bagiannya baru kemudian dirakit ulang di tempat tersebut. Proses perakitan tersebut memakan waktu selama dua tahun. Begitulah yang dikatakan oleh Mbak Pemandu cantik yang asli Madura. :p

di dalam Kapal Selam Pasopati bersama Mbak Pemandu :)

mencoba teleskop Kapal Selam Pasopati bersama Mbak Pemandu 🙂

Suasana Surabaya sangat panas pada hari itu. Namun, di dalam kapal selam dilengkapi dengan AC yang merupakan peralatan satu-satunya yang bukan asli dari kapal selam 😀 . Kami pun bisa menjelajahi ruang demi ruang di dalam kapal selam tanpa merasa kepanasan. Hanya saja, hari itu adalah hari Sabtu dan banyak sekali pengunjung lain sehingga kami pun tidak bisa berlama-lama dalam menyoba teleskop maupun berfoto.

narsis time di dalam Kapal Selam Pasopati >.< (dari atas kiri ke bawah kanan: Dian, Nia, Tebe, wafi, Tebe lagi, Nia lagi, Wafi lagi, dan finally sang fotografer Fian :D )

narsis time di dalam Kapal Selam Pasopati >.< (dari atas kiri ke bawah kanan: Wafi, Nia, Tebe, Dian sang fotografer 1, Tebe lagi, Nia lagi, Wafi lagi, dan finally sang fotografer 2 Fian 😀 )

Setelah selesai menjelajahi kapal selam, kami pun keluar menuju ruang pemutaran film. Di film tersebut disajikan cerita tentang pertempuran Laut Aru. Agak sulit bagi kami yang duduk di tengah ruangan untuk melihat film dengan nyaman karena tempat duduknya tidak didesain sebagaimana tribun di bioskop. Bagian bawah layar terhalang oleh kepala penonton di depan sehingga tidak semua bagian film tertangkap dengan jelas oleh kami. Bahkan sempat beberapa kami tertidur di tengah-tengah pemutaran karena memang lelah setelah mendaki dan film pun tidak dapat secara maksimal kami nikmati. Film berjalan hampir selama satu jam sebelum akhirnya kami keluar terakhir karena malas meninggalkan kursi dan ruangan ber-AC yang nyaman :v .

Waktu baru menunjukkan pukul 10.00. Kami masih punya banyak waktu untuk mengunjungi daya tarik Kota Surabaya yang lain yaitu Tugu Pahlawan. Untuk mencapai Tugu Pahlawan dari Museum Kapal Selam, kami tinggal naik angkot dan membayar Rp 3.000 saja.

Tugu Pahlawan Surabaya :D

Tugu Pahlawan Surabaya 😀

never-ending narsis di Tugu Pahlawan Surabaya :p

never-ending narsis di Tugu Pahlawan Surabaya :p. Narsis ala Meteor Garden 😀

Selesai menapaktilas sejarah di Tugu Pahlawan, kami melanjutkan ke tujuan kami berikutnya yaitu Jembatan Penyeberangan Suramadu. Kami memutuskan untuk naik taksi karena tidak ada angkot yang menuju ke arah tersebut. Perjalanan menuju ke Jembatan Suramadu membutuhkan waktu sekitar setengah jam. Sesampainya di jembatan, kami meminta Pak Supir untuk melambatkan taksi agar kami bisa mengambil gambar karena di sepanjang jalan terdapat tanda dilarang berhenti. Namun, ternyata Pak Supir menemukan salah satu blind spot dari CCTV untuk berhenti dan memberikan kami kesempatan untuk berfoto di luar taksi 😀 . Ternyata banyak juga kendaraan lain yang berhenti untuk berfoto.

Jembatan Suramadu

Jembatan Suramadu

Dengan panjang 5.438 m, jembatan Suramadu ini adalah jembatan terpanjang di Indonesia. Jembatan ini dibangun pada masa pemerintahan mantan Presiden Megawati apda tahun 2003 yang kemudian selesai 6 tahun kemudian saat pemerintahan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2009. Di Sebelah kiri kanan jembatan utama, terdapat tempat untuk kendaraan bermotor untuk juga bisa menggunakan jembatan ini untuk menyeberang ke Pulau Madura atau sebaliknya. Tujuan dari pembangunan jembatan ini adalah untuk meningkatkan pembangunan Pulau Madura yang relatif tertinggal dibandingkan dengan daerah lain di Provinsi Jawa Timur. Total biaya pembangunan diperkirakan mencapai 4.5 triliun rupiah (sumber: Wikipedia).

Narsis time!

Narsis time!

Sesampainya kami di Madura, kami semula ingin mencicipi makanan khas Madura yakni Bebek Sinjay. Namun, karena jarak yang cukup jauh dari jembatan dan kami juga harus mengejar waktu untuk sampai di Mojokerto petang hari, kami pun hanya numpang U-turn dan kembali ke Pulau Jawa (serasa jauh banget beda pulau 😀 ). Oh ya, fyi biaya taksi dari pusat Kota Surabaya sampai menyeberang ke Pulau Madura adalah (kalau nggak salah :p ) 213.000 sudah termasuk biaya tol dua kali masing-masing 30.000. Biaya yang relatif murah karena dibagi berlima dan bisa menyaksikan sendiri Jembatan Suramadu yang terkenal itu. Apalagi kami juga sempat berhenti lama di bawah jembatan untuk memotret jembatan tersebut secara keseluruhan. Sayang cuaca yang mendung membuat kami tidak mendapatkan gambar yang cukup jelas dari jembatan tersebut.

Mendung, jembatan tidak begitu terlihat (foto comot dari koleksi Dian :D )

Mendung, jembatan tidak begitu terlihat (foto comot dari koleksi Dian 😀 )

Tak lupa kami juga mengunjungi landmark Kota Surabaya yaitu patung buaya dan hiu. Tadinya kami penasaran dimana letaknya, eh ternyata cuma di belakang Monumen Kapal Selam. -_-‘

Patung tersebut terdapat di sebuah taman kota. Ada arena untuk bermain skateboard juga. Banyak anak-anak remaja yang berlatih skateboard di sana.

bersama landmark Surabaya (nggak bisa foto lengkap berlima :D )

bersama landmark Surabaya (nggak bisa foto lengkap berlima 😀 )

bermain skateboard

bermain skateboard

Selesai berfoto di sini, kami menuju mall terdekat (namanya apa ya lupa :p ) untuk makan siang. Bukan bebek sinjay atau makanan khas lain, kami memilih untuk makan di McD :p . Selesai makan, saya menemani suami beli celana buat ke kondangan di Mojokerto nanti petang karena dia lupa tidak membawa baju ganti banyak. Kami juga sekaligus sholat di mall. Pukul 15.30 kami naik bis menuju Mojokerto untuk menghadiri akad nikah Mas Reza, salah seorang teman mereka. Saya hanya penyusup yang kebetulan dibawa oleh suami. 😀

Setelah berdiri berdesak-desakan di bis selama satu jam, sampai juga kami di terminal Mojokerto. Setelah bersih-bersih diri dan dandan rapi, kami naik becak menuju ke rumah Mbak Yossie sang mempelai wanita. Tas carrier kami yang segede gaban kami titipkan di rumah Pak RT yang kebetulan dekat dengan rumah Mbak Yossie. Alhamdulillah kami datang tepat waktu. Di sana kami bertemu dengan Mas Catur dan temannya Mas Catur (belum kenalan 😀 ). Dan perjalanan panjang nan melelahkan namun sangat menyenangkan ini ditutup dengan janji suci dua orang manusia yang mengikat janji untuk hidup bersama dalam suka maupun duka (duileh :p ). Selamat Mas Reza dan Mbak Yossie, semoga langgeng, diberi keturunan yang sholeh/sholehah, jadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rohmah. Aamiin 🙂 ❤

Muka Capek :D

Muka Capek 😀

It was a great holiday! Thank you for all of my (new) friends. I hope we can still travel to somewhere else together someday. ❤

~The End~

P.S.

Kali ini nggak pake foto dari Anom. Cuma ambil dari Dian sama Fian. Terima kasih foto-fotonya bagus-bagus. 🙂

Masih ada side story tentang kuliner khas Banyuwangi 😀

Advertisements

Mari berdiskusi... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s