Mereka Para STAN-ers

Sedari dulu heran bener sama ini kampus. Segitu bekennya STAN sampai yang daftar bisa mencapai ratusan ribu orang sementara yang diterima hanya berkisar lima ribuan saja? Bimbel-bimbel menjamur menawarkan kursus khusus untuk membobol seleksi STAN yang ketat. Dengan asumsi kuliah tentang tetek bengek ekonomi, perpajakan, dan urusan duit perduitan lainnya, kalau nggak bener-bener passion, siapa sih yang mau ngurusin duit negara?? Nggak mau lah terpenjara dalam kerja yang bukan minatku!

Setidaknya itu adalah asumsiku saat masih SMA, masih polos dan kinyis-kinyis. Dan itu pula alasan dulu mati-matian menolak saran Bapak buat masuk STAN. Dih, lalu sekarang antara nyesel dan bahagia nggak jadi daftar STAN. Ha?? Nyesel? Emang udah pasti diterima kalau dulu kejadian ikut daftar? :p

Nah, ini dia nih. Menilik kawan-kawan SMA dulu yang mendaftar dan diterima STAN, sepertinya bukan dari kaum elit ranking 10 besar paralel atau apa. Bahkan mungkin mereka pun melambaikan tangan di ranking 10 besar kelas. Tapi diterima di STAN? Dengan seleksi seketat itu? Oh why?

Babe mertua menanggapi ceritaku yang dulu ogah-ogahan daftar STAN, “Kui arepo cah pinter wae urung mesti ketompo kok, nduk.”

Iya, tak serta merta ranking satu paralel seangkatan bisa terjamin masuk STAN. Kakak ipar yang jenius, yang masih kisaran awal 30 (atau malah akhir 20an 😀 ) tapi sudah jadi dosen dan sekarang sedang menuntut S3 dengan gilang gemilang konon dulu mendaftar STAN tapi juga tidak diterima. Temen kuliah, yang juga exceptionally pinter, mencoba masuk STAN sampai 2 (atau mungkin 3 kali ya?), gagal juga. Lah ini, temen SMA yang dulu hobinya mbanyol nggak jelas, yang hobinya ngrekam-ngrekam kejadian kelas pake HP (agak pendiam dan mungkin cenderung autis), dan yang nggak aktif-aktif banget di kelas malah ketrima. Aih, ini maunya STAN apa sih?

Tapi bukan berarti anak pintar sudah di-blacklist oleh negara. Yup, negara. Karena STAN-ers sudah dijamin untuk nantinya mengabdi pada negara. Jadi PNS gitu. Nah, ini lagi, PNS juga seleksinya naudzubillah min dzalik. Lowongan sebiji yang ndaftar ribuan orang. Pucing pala balbie. >.<

Oh ya, kembali pada anak pintar dan STAN. Ya, bukan berarti karena teman-teman SMA-ku yang diterima di STAN sableng-sableng semua jadi anak pintar tidak akan bisa diterima di STAN. Seorang kawan berkata, “Temenku ada lho yang udah diterima di FK UGM, tapi ditinggal karena dia ketrima di STAN. Gila nggak tuh?’

Duh, itu bukan gila lagi namanya. Gila kuadrat! FK UGM mungkin adalah fakultas paling prestigious di Indonesia. Jalur kamu masuk sudah akan dilupakan orang jika kamu bisa diterima di FK UGM. Mau PMDK, mau UM, mau SNMPTN, mau dari belakang (eh ini kayaknya nggak ada deh, :p), pokoknya, kalau sudah diterima di FK UGM, kamu akan dianggap sesakti Dewa Ganesha, guru dari segala guru, master dari segala macam ilmu. Dan menolak untuk masuk ke jajaran elit mahasiswa FK UGM? Akalku tak sampai memikirkannya. -_-

Semua misteri itu terungkap saat akhirnya dapet suami lulusan STAN. Mengenal lingkungan perkawanannya yang mayoritas anak STAN. Dan akhirnya sedikit banyak bisa menyimpulkan: bisa diterima STAN itu adalah salah satu sarana pembuktian kualitas diri. Rumus kesuksesan bukanlah ranking 1 paralel, IPK cumlaude, dan aneka predikat akademis lainnya. Berapa banyak mahasiswa cumlaude yang nganggur bertahun-tahun dan akhirnya bekerja remeh temeh? Berapa banyak kawan SMA yang dulunya biasa-biasa, bahkan mungkin cenderung urakan dan semau gue, akhirnya bisa sukses di awal karirnya bekerja? Selama ini pendidikan kita terlalu mengagung-agungkan prestasi akademis. Siswa yang mendapatkan nilai biasa-biasa saja dicap akan memiliki masa depan yang tak pasti. Sementara mereka yang selalu berada di jajaran elite ranking paralel seolah sudah pasti akan menjadi orang sukses nantinya. Tanpa sadar pandangan kita selama ini selalu menilai pada hasil akhir, bukan proses. Meski di mulut berkata manis: yang penting prosesnya, tapi toh, yang ranking satu tetap disanjung dan dipuja sementara yang biasa saja prestasinya sepi gaungnya. Padahal semua anak kan ranking satu! (mengutip prinsip pendidikan Finlandia)

Nah, malah melantur lagi. Kembali kepada misteri penerimaan mahasiswa STAN. Kurasa kampus ini sudah menemukan suatu cara ampuh untuk menyeleksi ratusan ribu pendaftar dilihat dari kualitas individu. Yap, kualitas individu, bukan melulu kualitas akademis. Tak sampai 25 orang yang kukenal sebagai lulusan STAN. Tapi dari kesemua orang itu, secara aneh, mereka meninggalkan impression yang kuat. Mereka bukan orang yang bisa dinilai hanya dengan sekilas mengintip nilai rapornya. Mereka memiliki satu kesamaan: berpendirian kuat dan pekerja keras. Tak ada dari mereka (yang kukenal) berpandangan kosong, ogah-ogahan, dan memiliki tatapan mata ‘aku tak seharusnya berada di sini’. Mereka penuh energi positif dan selalu menyenangkan berada di dekat mereka.

Dan ini mungkin adalah salah satu yang membuatku jatuh cinta. 🙂

Suami dulu sempat diterima di Pendidikan Bahasa Inggris UNS, kampus yang sama tempatku menuntut ilmu. Dari perkenalan yang super singkat itu, sedikit banyak bisa kulihat kemampuan Bahasa Inggrisnya: tak bisa membedakan kapan harus menggunakan past tense, modals sering tamasya ke tempat yang tak semestinya, preposition tak perlu lagi ditanya. Singkatnya, sebagai mahasiswa yang mengambil jurusan Bahasa Inggris, kemampuan berbahasa Inggrisnya magis, seram. Lalu suatu ketika dia bertanya-tanya padaku tentang link belajar Bahasa Inggris. Semula kuanggap itu hanya basa-basi saja untuk membuka pembicaraan karena kami lama tak bersua. Tapi beberapa bulan kemudian, wow. Past tense, present tense, future tense berada di tempat yang seharusnya, modals dan prepositions sudah kembali dari perjalanan dinasnya. Bahkan sempat beberapa kali kutanyakan arti dari kosa kata yang dia pakai. Diksinya meningkat secara dramatis, bahkan melebihi teman-temanku yang bertahun-tahun belajar di Jurusan Bahasa Inggris (dengan ogah-ogahan tentunya).

Untuk sedikit lebih objektif, ambillah contoh selain suami, teman kampus 3 semester, sebut saja Ria. Ria adalah mahasiswa yang cerdas, nilai-nilainya selalu di atas rata-rata. Kalau dia lanjutkan sampai lulus dia pasti masuk jajaran mahasiswa cumlaude.  Ria adalah pribadi yang menyenangkan, disukai banyak teman, tugas-tugasnya selalu dikerjakan dengan rapi. Pertengahan semester 3 dia memilih STAN, diterima, dan akhirnya pergi meninggalkan kami. Namun, pribadinya yang menyenangkan membuat kami masih akrab dengannya. Dia semacam lampu neon yang menarik banyak laron. Energinya positif, senang selalu berada di sekitarnya.

Inilah salah satu kualitas STAN-ers. Hanya mereka yang telah ditempa oleh proses dan berhasil melaluinya yang bisa menuntut ilmu di sini. Bukan semata mereka yang berhasil mendapatkan prestasi akademis. Eh, tapi sekali lagi, bukan berarti prestasi akademis tak akan membawa sukses. Pribadi yang menyenangkan, pekerja keras, ulet, dan berpendirian teguh adalah ciri orang yang berhasil. Kalau masih ditambah dengan kemampuan akademik yang mumpuni: suksesnya sukses. Lebih sukses dari sekedar menjaga kewarasan dan berpikir sesuai orang awam. Mereka berjiwa intan. Mereka bukan lagi orang yang masih labil dan mencari jati diri. Aih, susah kali menuangkannya dalam kata-kata.

Mungkin tulisan ini bisa mewakili pandangan orang di luar STAN tentang STAN-ers. Bukan bermaksud untuk purposive sampling. Memang kebetulan saja kenalnya anak-anak JAVENTURE. Kalau ada SUMATERATURE atau KALIMANTANTURE bisa jadi beda persepsi. Namun yang jelas, kecurigaanku tentang kampus STAN yang telah berhasil mengembangkan sistem seleksi tingkat tinggi untuk mendulang jiwa intan di antara ribuan pasir masih belum goyah. Da aku mah apa atuh, butiran debu, kalau mendaftar mungkin juga nggak diterima. Antara menyesal dan bahagia dulu mencoba mendaftar pun tak mau. Menyesal karena sepertinya menyenangkan sekali jika diterima di STAN dan berlama-lama mengenal begitu banyak pribadi yang luar biasa menarik. Bahagia karena jika mendaftar dan diterima di STAN, mungkin tak bisa fokus mengurus suami dan anak karena kesibukan menjadi pegawai pemerintah atau malah LDM ribuan kilometer. Yang terbaik menurutku memang selalu tak sebaik ketetapan Allah. Senang mengenal kalian STAN-ers, JAVENTURE. Senang berada di sekitar kalian. Kalian hebat! 🙂

Advertisements

Mari berdiskusi... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s