Perang Dunia Ibu-ibu

Peperangan ini belumlah lama berlangsung. Paling rame perangnya di Facebook karena cakupan pertemanan yang lebih banyak dan fiturnya yang bikin status lebih mudah viral. Dugaan kuat, pemudi-pemudi ngehits kekinian pada jamannya ramai-ramai bikin akun di tahun 2000-an akhir (aku termasuk nih). Kini mereka mayoritas sudah menikah dan memiliki anak. Status-status Facebook yang semula alay, campur dengan angka-angka, kenalan-kenalan online leh nal?, dan berisi dengan kegalauan cinta monyet berubah menjadi serentetan foto pernikahan, status tentang pekerjaan rumah/kantor, dan keseharian keluarga dan anak-anak. Para mahmud (mamah muda, red) ada yang bekerja, ada yang full di rumah, ada yang bekerja di rumah, ada yang anaknya banyak, ada yang anaknya baru satu, ada yang punya anak aja belum, ada yang masih mengejar karir, ada yang belum menikah, dll. Mereka pun mulai beradaptasi dan merumuskan apa yang baik menurut keadaannya.

Taaaaapiiiii…..

Di jaman ‘semua harus dibikin status’ ini banyak yang tanpa sadar over-share kehidupan pribadi, over-comment, mudah nge-judge, daaaaaaan …… tanpa sadar melakukan self-defense atas apa yang dialami di kehidupan nyata yang lagi tanpa menyadari bahwa the nature of social media is like this:

social-media-in-real-life

Kondisi ini, digabungkan dengan kepercayaan bahwa ‘perempuan selalu benar’, ditambah dengan kenyataan ada milyaran perempuan di muka bumi dengan berbagai macam latar belakang, jadilah banyak sekali pendapat yang berbeda-beda. Namun, ada satu kesamaan di antara mereka: memiliki akun Facebook. Nah, saat buka Facebook ditanya lah sama Mas Mark, “What’s on your mind?”

Inilah jawaban Bu CEO yang terkenal garang:

dsada

Wow wow wow woooowww… easy, Mom.

Namun Mak Odah berpendapat lain:

sdadsa

Padahal Ibu Pejabat, panutan masyarakat, sudah membuktikannya:

hgfd

Tapi Ibu Kos tahu bahwa kenyataannya si Ibu Pejabat ini:

ser

Errrr…. Yang kerja dan nggak nitipin anak ke ortu/mertua ikutan ketusuk nih. Jadilah mereka yang tadinya woles lalu kena peluru nyasar turut angkat senjata.

Naaah, gimana??? Seru kan???? Rame kaaaan??? Sekalian ngebayanginnya pake suaranya emak-emak lagi rebutan Year End Sale Harbolnas-an. Uwuwuwuw… sinetron sekaliiii…

(Btw itu urutannya nggak bermaksud berkata bahwa Ibu Pekerja yang mulai peperangan. Hanya contoh saja. #peace)

Padahal nih yaa, kalau mau objektif, ibu rumah tangga benar jika (1) suami mengizinkan dan ridho benar, (2) kondisi ekonomi memungkinkan, dan (3) tak jarang karena anak di rumah dalam kondisi sangat membutuhkan ibunya (sakit, berkebutuhan khusus, dll) dan alasan-alasan lain yang bisa dipertanggungjawabkan.

Ibu bekerja juga benar jika (1) suami mengizinkan dan ridho, (2) kondisi anak memungkinkan, (3) mampu tetap memberikan hak perawatan dan pendidikan anak tanpa merepotkan orang lain (dengan mampu mempekerjakan nanny, dll) dan alasan-alasan lain yang bisa dipertanggungjawabkan.

Setiap manusia, demikian pula setiap ibu, memiliki ujiannya masing-masing. Ada yang murni dari hati memilih jadi ibu rumah tangga atau ibu bekerja karena kondisi yang memungkinkan. Namun, ada juga yang terpaksa harus di rumah atau terpaksa harus bekerja meski dalam hati menginginkan sebaliknya.

Jadi bayangkan bila hanya dari komen ‘ibu rumah tangga itu malas’ atau ‘ibu pekerja itu kejam ninggalin anaknya’ yang dengan ringannya kita ketik di laman media sosial kita, tak pernahkah mereka bayangkan kondisi semacam ini?:

  1. Ibu Dahlia memiliki karir cemerlang di perusahaan multinasional. Namun, anaknya yang masih balita ternyata mengidap penyakit yang membuatnya harus fokus merawat anaknya, bertualang dari RS ke RS mencari dokter yang mampu menyembuhkan anaknya. Dia pun terpaksa harus resign demi fokus kepada buah hatinya. Dalam kondisi yang demikian, seorang kawan di media sosial dengan ringannya menuliskan ‘ibu rumah tangga itu nanti anaknya jadi malas. Karena apa-apa diurus ibunya.’
  2. Atau kisah fiktif lain: Ibu Rita yang bersuamikan guru honorer, tapi anaknya juga menderita sakit yang memerlukan banyak biaya. Meski anaknya sangat membutuhkan kehadirannya, namun, ia memilih bekerja supaya bisa membayar biaya pengobatan. Karena keterbatasan biaya pula, terpaksa ia menitipkan anaknya yang sedang sakit kepada kakek-neneknya. Dalam kondisi yang demikian, sahabat sekolahnya dulu menuliskan ‘Ibu bekerja, yang ada ngerepotin neneknya’ disertai gambar bertuliskan kata motivasi betapa mulianya ibu yang tetap berada di rumah dan dekat dengan anaknya.

Jaman di mana akses informasi begitu mudah didapat, begitu mudahnya pula kesimpulan dibuat hanya dari sebuah gambar/video/status/artikel dll. Padahal jaman kelas VII SMP dulu (dengan asumsi dulu dapat kurikulum sama se-Indonesia Raya) diajarkan untuk menggunakan pemikiran bermetode ilmiah: 1) merumuskan masalah, 2) merumuskan hipotesis, 3) mengumpulkan data, 4) menguji hipotesis, 5) merumuskan kesimpulan.

Tapi kenyataannya?

Sedang viral sebuah video rekaman berisikan seorang ibu yang membawa anaknya ngamen. Suaranya bagus banget. Tapi, liat dong komengnya.

videvid

Banyak yang muji. Tapi nggak sedikit pula yang komeng nylekit #sekedarsharependapataja yang jelas-jelas tidak menyelesaikan masalah yang dia curigai. Apa manfaat yang ditimbulkan setelah dia nylekit? Bukankah justru bisa menyakiti ibu itu jika ibu tersebut benar-benar punya alasan untuk harus ngamen?

Bisa dilihat dari sini, buanyak yang dari perumusan masalah tau-tau loncat aja ke merumuskan kesimpulan. Ngomong tanpa data. Kalau sudah liat ibunya, sudah wawancara, sudah nengok rumahnya, sudah lihat kondisinya, baru boleh menyimpulkan. Nggak sempat? Ya khusnudzon aja nggak main asbun. Tapi gimana-gimana dilihat tetep suudzon? Ya didoain aja semoga ibu itu dapat rejeki banyak jadi bisa stay di rumah, fokus ngurus anak sambil maskeran cantik.

Duh, kok ini nadanya jadi ngajak perang ya. Hihi. Stop dulu ngeteh dulu.

=============================================================

Jadi teringat, percakapan beberapa hari yang lalu dengan seorang sahabat. Entah bagaimana caranya, obrolan yang semula membahas ‘Bagaimana Membuat Cilok yang Enak’ berubah menjadi ajang curhat. Dulu dia kuliah di kampus kedinasan sehingga setelah lulus pun ditarik bekerja di kantor pemerintahan. Setelah menikah dia merasakan repotnya menjadi ibu rumah tangga sekaligus ibu bekerja. Pulang kerja, kena macet Jakarta, sampai rumah langsung bersih-bersih, nyuci, nyapu, masak. Capek sekali. Berkali-kali dia meminta ijin resign kepada suaminya agar bisa lebih fokus melayani suami. Tapi, dari bekerja, ia mampu membantu tabungan masa depan keluarga kecilnya, membantu sekolah adiknya, bisa kirim uang tiap bulan, membahagiakan orang tua, dll.

Aku yang kebalikannya. Demi alasan ‘Jakarta itu alam liar’ dan ingin fokus mengurus suami dan anak (yang belum ada), memilih jadi ibu rumah tangga (plus serabutan ala kadarnya). Keluarga menyayangkan, aku juga terpaksa menyayangkan.  Membebankan sepenuhnya perekonomian kepada suami, tak bisa membantu biaya sekolah adik, tak bisa menghajikan orang tua, tak bisa mengirimi uang setiap bulan, dll. Meski demikian, Alhamdulillah, saat suami minta makan selalu tersedia, minta minum langsung bisa dibuatkan, sampai rumah dilihatnya rumah sudah bersih dan rapi serta istri dengan wajah tersenyum siap melayani.

Tak terhitung pula berkali-kali ijin suami untuk bekerja karena bosan dengan rutinitas dan tak tahan dengan tekanan sosial. Di saat tertekan begitu kalau lihat sliweran gambar dan dalil “barokahnya jadi ibu rumah tangga”, “mulianya menjadi ibu rumah tangga,” “meski sekolah tinggi saya memilih jadi ibu rumah tangga” rasanya seperti mendapat pembenaran angin segar. Bawaannya pengen ngeshare, sungguh. Pengen nge-share agar demi keluarga, teman-teman, dll yang menyayangkan keputusanku membaca dan memaklumi. Tapi ini sosial media, meeeen. Semua teman dari segala lapisan ikut baca. Tag keluarga aja? Gile lu, nDro! Nggak lah! Itu mah nggak sopan, beraninya di sosmed, nggak berani ngomong langsung (nah emang iya :p ). Maksa share atau malah nggak berpikir panjang langsung share? Itu hanya bermakna satu hal: WAAAARRRRR!!!!

Atau, maunya nyindir suami pake gambar ginian yang didapat dari Facebook seorang ustadz:

tand

Share lah lalu harap-harap cemas nanti pulang kerja suami bilang, “Mih, weekend ke dufan yuk?” Boro-boro buka Facebook, suami seharian kerja repot. Yang ada malah ibu-ibu pekerja merasa tak dihargai karena cemburu udah capek-capek kerja tapi jumlah pikniknya nggak sebanyak ibu-ibu rumahan. Atau ibu-ibu yang merasa sudah cukup tanpa piknik 10x lipat ikut-ikutan angkat gada. Lalu muncullah gambar-gambar berisikan quote tandingan. Boro-boro minta piknik lebih banyak, bersyukur dong dah tiap hari noh piknik bobo-bobo syantik sama anak. Hmm.. lha wong mau piknik banyak, nggak piknik, suka-suka gue dong? Situ mau piknik? Ya piknik aja sendiri. Mau saingan siapa lebih banyak piknik? Hayuk…Nggak mau piknik? Ya sok.. Ngomong-ngomong masalah piknik, jomblo lebih berhak. Situ udah ada suami. Lha jomblo????

Nah, konyol kan? :p

Ki yok opo to yooo…. Koyo rebutan permen.

Jadi kesimpulannya:

  1. Gunakan metode ilmiah dalam berpikir, jangan asbun (self-reminding juga nih)
  2. Jangan gampang share-share kalau niatnya cuma mau nyindir suami/keluarga/temen. Langsung aja ngomong sama orangnya daripada jadi pelaku peluru nyasar. Intinya K-O-M-U-N-I-K-A-S-I.
  3. Ibu bekerja, ibu di rumah, itu pilihan atau keadaan. Ibu rumah tangga nggak usah nakut-nakutin ibu pekerja kalau nanny-nya ngajak si anak ngemis di jalan. Ibu pekerja nggak usah pula nyindir-nyindir ibu rumah tangga itu males.
  4. Nggak usah ngomongin jelek ke orang lain kalau sebenarnya cuma mau meyakinkan diri sendiri telah membuat keputusan yang tepat. 🙂 Mengatakan yang lain adalah pilihan buruk supaya pilihan kita dianggap baik bukanlah sikap sportif. Lebih ke omdo. Intinya buktikan! Jangan kayak janji palsu dari mulut manis politisi busuk. Buktikan kalau dengan bekerja, anak suami tetap mendapat haknya. Buktikan kalau dengan memilih di rumah, perekonomian tetap terjaga karena bisa mengatur keuangan dengan baik, anak suami juga terawat baik.
  5. Nggak usah/kurangi sosmed-an! Katanya repot ngurus rumah, katanya repot kerja, sempat-sempatnya heboh perang di sosmed. Gitu-gitu teriak-teriak klo gantian ditinggal bapak-bapak war di game online.
    Yang ibu rumah tangga bisa waktunya dipakai murojaah Al Quran, usaha kecil-kecilan, sekedar baca buku nambah wawasan, ngurusin cucian, ngurusin anak, dll. Jangan sampai anak jatuh dari kursi nggak tau karena sibuk hapean. Yang ibu pekerja, waktu kantornya bisa dipakai kerja efektif, kalau ada luang bisa dipakai baca buku, murojaah juga, pulang nggak pegang hape tapi pegang anak sama suami. Pasti bisa damai.
    Tetep butuh refreshing and stay connected pake sosmed? Okelah, tapi cobalah untuk bijak 🙂

Duh, panjang banget ya. Ini belum ngomongin asip vs asi langsung, metode-metode parenting, homeschooling vs formal schooling, dll.

Kayaknya, ini pertanda untuk ngurangi sosmed dan lebih mempersiapkan diri jadi ibu yang baik. Katanya mau anak sholih-sholihah? Masa ibunya petjitjilan hape nggak pernah lepas. Towewww…

Udah ah. Damai yuk, Buibu. 🙂

Advertisements

9 thoughts on “Perang Dunia Ibu-ibu

  1. Ini yang paling menarik:

    “Ibu rumah tangga butuh piknik 10 kali lipat dibandingkan ibu yang bekerja.”

    Setuju banget mbak. Kalo boleh sharing, gara gara sekarang kuliah dan punya banyak waktu di rumah, aye jadi merhatiin langsung gimana meres batinnya jadi ibu rumah tangga, lebih lebih yang udah punya momongan. Nyaris ga punya waktu buat dirinya sendiri.

    Ditambah lagi kalau ibunya menyusui. Produksi ASI itu sensitif banget mbak sama kondisi psikologis si emak. Si emak banyak pikiran, sumpek, jenuh, bisa ga keluar loh itu ASI.

    Intinya, mari bikin gerakan #EmakEmakPiknik. Ke mana aja. Sekedar keluar cari angin di taman boleh boleh aja, yang paling penting si emak hepi.

    Gitu aja dan terima gaji. 😀

Mari berdiskusi... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s