Pengalaman Membawa Bayi Naik Pesawat

Pada tanggal 15 Februari kemarin, kami sang ortu nekat aji mumpung pak su libur sebulan, pergi ke Belitung. Kalau ke sananya setahun lalu tentu nggak ada masalah. Bakal jadi semacam hanimun ke dua #etdah. Taaaapiiii… bagaimana kalau liburan ke pulau bawa BAYI. Yup, you read it right, baby. B-A-Y-I. 

Agak ragu sebenarnya, tapi ini mumpung lho. Mumpung banget libur sebulan. Kalau udah balik kerja, kapan lagi bisa ajejing halan-halan pas weekdays? Maklum, saya dan paksu sama-sama introvert -ehem. Jadi, kalau piknik, lebih suka milih pas lagi sepi.

Halah, padahal juga cuman piknik dua hari. mihihi

So, drama pertama: membawa bayi naik pesawat.

Baby A sekarang berusia lima bulan. Dia sudah pernah naik pesawat sebelumnya pas usia tiga bulan waktu nyusul bapaknya ke ibu kota. Waktu itu ada simbahnya jadi nggak gitu panik. Nah, ini, mau pergi jauh naik pesawat, bawa bayi, cuma berdua saja. Yang bikin ketar-ketir adalah ini musim hujan. Bukan masalah turbulensi atau segala macam permasalahan teknis lainnya yang bikin hati emak galau. Taaaapiii.. musim hujan, musim anak pilek. Sluuurrppp…

Dan, eng ing eng, tepat empat hari sebelum keberangkatan, Baby A tetiba napasnya berbunyi grok-grok. Hari pertama masih ‘ah, paling grok-grok kayak bayi pada umumnya.’ Hari ke dua, lho kok ada cairan bening keluar dari hidung. Panik at the disco dong. Mulai deh yang nggodok air panas dan uap-uapnya aku kipasin ke Baby A, beli sedotan ingus, mau beli saline drop tapi kata mbak apoteker harus pake resep dokter. On top of that, malam harinya Baby A batuk! Nooooooo…..

Drama babak baru dimulai. Pagi-pagi maksa ke dokter buat meriksain Baby A. Pas udah sampai TKP, jeng jeng… banyak anak-anak dengan gejala pilek dan batuk parah berkeliaran. Emak dekep Baby A erat-erat sambil jalan-jalan di taman depan, sambil sesekali noleh ke kerumunan kuman dan virus flu itu. Lalu memutuskan untuk mengajak pak su pulang. 😀

We’ll wait n see. We’ll do it our way. Galau banget kaaaan.

Singkat cerita, kami pun menanti. Hari H bawa minyak telon, sedot ingus, balsem transpulmin yang mehong abis, serta banyak-banyak berdoa. Udah pernah denger kan naik pesawat waktu pilek itu horor abis?  Yang terburuk bisa bikin gendang telinga pecah. Hiyaaaaa… Berkali-kali saya ngomyang ke pak su ‘Nggak papa nih? Kita kejam nggak nih maksain Baby A? Gimana nih?’ Dalam hati takut kenapa-kenapa.Better safe than sorry, kaaan? Tapi tapi tapi, semua sudah dibayar, pesawat, hotel, jasa travel. Yaudah, bismillah. *toyor kepala sendiri

Bayi sebaiknya minum saat take off dan landing. Kalau pun bayi tidur saat itu tidak usah dibangunkan. Baby A sewaktu mau boarding malah minta mik, yang artinya berarti nanti saat take off kemungkinan kecil buat dia mau minum. Saya balur dada dan punggungnya dengan balsem mehong. Dan sewaktu di dalam pesawat, Baby A justru bangun, nggak mau mik, dan maunya main.Hosh.

Saya yang tiap naik pesawat telinga pasti serasa mampet, khawatir lah sama ni bayik. Mulut Baby A saya monyong-monyongin biar buka nutup buka nutup dengan harapan (kosong) dia punya reflek menelan saat saya gituin. Lubang telinganya saya buka tutup buka tutup pake jari. Daaaan… alhamdulillah tidak rewel sodara-sodara!!! Dia hanya rewel pas majalah pesawatnya nggak boleh dia makan. Wkwk

Oh iya, apa kabar dengan pileknya? Batuknya?

Jadi, jebulnya, itu grok-grok biasa. Setelah itu kadang dia masih grok-grok. Cairan bening yang keluar dari hidungnya beberapa hari yang lalu – meski saya yakin banget bukan halusinasi- ternyata tidak berubah menjadi ingus. Batuknya pun entah hilang kemana. Alhamdulillaah… Bayi ceria, liburan senang! Yay.

Ohya, in case ada yang mau bawa bayi naik pesawat, sudah booking jauh-jauh hari dan tetiba anak pilek saat itu, saya sarankan sih sebaiknya ditunda saja. Atau, kalau tidak yakin apakah itu pilek atau bukan, coba cek sendiri. Kalau tidak yakin dengan cek sendiri, coba cek ke dokter. Atau kalau emang harus berangkat saat itu juga, usahakan meredakan hidung mampet anak dengan saline drop (kalau bisa dapet tanpa resep karena sebenarnya ramuan ini bisa bikin sendiri pake garam tanpa yodium), dan sedot ingusnya sebelum take off. Intinya adalah clear the airways, buat hidung anak plong sementara.

Kalau urusan anak mah emang ya: Trust your mother instinct. Tapi tetep juga sih BETTER SAFE THAN SORRY. Eh maaf, capslock kepencet. Tinggal anda pilih yang mana, Moms. Hihi

Happy travelling!

Advertisements

2 thoughts on “Pengalaman Membawa Bayi Naik Pesawat

Mari berdiskusi... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s