Jawaban dari Doa-doa

Saat mulai menulis ini, saya sedang di kampus menunggu dosen pembimbing skripsi. Kampus sepi, meski parkiran begitu penuh seperti biasa. Ruang dosen juga kosong. Lalu pikiran menerawang, akankah dosen pembimbing datang hari ini? Handphone dari tadi anteng-anteng saja. Kebetulan fakta bahwa dua teman sekelas ujian hari ini berhasil menanamkan sugesti positif, “Tinggal sebentar lagi. Sabarlah.”

Jauh dari apa yang pernah saya harapkan bahwa hari ini saya sudah bisa memanjangkan nama dengan 3 huruf S.Pd. Continue reading

Masih Tentang Angsana

I fall in love with those that fall: rain, snow (eventhough I’ve never seen this one yet T.T), leaves, and flowers like angsana.
Tahun ini, adalah kali ke empat saya menyaksikan tibanya musim gugur di Universitas Sebelas Maret tercinta. UNS memiliki tiga musim: musim kemarau, musim penghujan, dan musim angsana. Di musim kemarau, angsana ini adalah peneduh. Tersebar di berbagai sudut kampus, daunnya yang rindang mampu menahan terik matahari agar tidak langsung menerpa tanah. Di musim hujan, daunnya yang semakin menghijau masih terlihat menawan meski tak terlalu efektif menahan hujan sebagaimana dia menahan sengat matahari. Karena penuh dengan pepohonan (tak hanya angsana) inilah, UNS juga sering disebut sebagai The Green Campus (mungkin biar samaan sama Kampus Biru yang terkenal seantero negeri, :p).

Angsana di Musim Panas

Kampus Hijau

Saat negara-negara di belahan bumi utara mengalami musim gugur, UNS juga mengalami musim gugur. Hanya saja yang gugur bukanlah dedaunan namun bunga-bunga angsana yang kuning dan kecil-kecil. Saat musim ini tiba, jalan-jalan di UNS dipenuhi dengan hamparan kuning yang terlihat begitu indah dipadukan dengan hijaunya daun angsana dan birunya langit (jika kebetulan tidak sedang mendung). Apalagi jika bunga-bunga yang masih di tangkainya berguguran tertiup angin, rasanya sudah seperti di drama-drama Korea, mendadak suasana menjadi syahdu dan damai. Lalu serombongan mahasiswa menyerbu dengan kameranya masing-masing (secara harfiah). 😀

Angsana

gambar diambil dari: https://twitter.com/mahasiswaUNS/status/398810787839361024/photo/1/large

Mungkin seperti inilah rasanya jatuh cinta: damai, syahdu, dan bahagia tanpa setitik pun keinginan untuk memiliki sang angsana sendirian. Kita menikmati berdiam diri di antara guguran angsana, membiarkan bunga-bunga yang kecil dan ringan itu beterbangan ditiup angin. Membiarkan orang-orang lain juga menikmati perasaan yang sama. Saat musim angsana ini berakhir, tentu ada perasaan sedih, namun sejenak pula tersadarkan bahwa jika umur masih panjang, tahun depan kita masih bisa bertemu lagi. Hanya bertemu tanpa ingin memilikimu. Mm,.. mungkin ingin memiliki dengan nanti menanam sendiri pohon angsana di rumah #eehh :D.

Selamat musim angsana, mahasiswa UNS.

p.s. bunga jambu air yang berwarna pink juga indah saat bunganya berguguran. Efeknya seperti angsana, hanya saja radiusnya tidak seluas angsana. 😀